RADAR SURABAYA — Peningkatan investasi Tiongkok di Indonesia turut mendorong kebutuhan tenaga kerja yang menguasai bahasa Mandarin. Dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut tercatat sebagai salah satu investor terbesar dengan nilai mencapai miliaran USD yang tersebar di berbagai sektor, seperti otomotif, pertambangan, elektronik, tekstil, hingga perdagangan.
Data perdagangan menunjukkan nilai hubungan dagang Indonesia–Tiongkok telah melampaui USD 127 miliar. Seiring itu, ribuan perusahaan asal China kini beroperasi di berbagai daerah di Indonesia, menciptakan kebutuhan baru di bidang komunikasi bisnis lintas bahasa.
Baca Juga: Sanggar Mulyo Joyo Enterprise Tampilkan Indonesia Menari di Ajang Radar Surabaya Awards 2026
Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya permintaan tenaga penerjemah Mandarin. Di sejumlah platform pencari kerja nasional, lowongan untuk posisi ini tercatat cukup tinggi. Di JobStreet, misalnya, terdapat sekitar 997 lowongan penerjemah Mandarin. Sementara di Glints dan BeBee, ratusan posisi serupa juga tersedia dan terus diperbarui.
Sejumlah perusahaan besar yang beroperasi di Indonesia juga membuka peluang di bidang ini. Di antaranya PT BYD Auto Indonesia yang membuka posisi penerjemah di pabrik Subang, serta PT Huayue Nickel Cobalt yang menawarkan gaji berkisar Rp 11 juta hingga Rp 13,5 juta per bulan. Selain itu, perusahaan seperti PT Maxxis, PT Pou Chen Group, PT Linko Internasional, dan PT Sunxin Exim juga membutuhkan tenaga dengan kemampuan bahasa Mandarin.
Dari sisi pendapatan, penerjemah Mandarin pemula umumnya memperoleh gaji sekitar Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Sementara tenaga berpengalaman dapat mencapai Rp 10 juta hingga Rp 25 juta per bulan, tergantung sektor dan tanggung jawab pekerjaan.
Namun demikian, ketersediaan tenaga kerja yang memiliki kemampuan bahasa Mandarin dinilai masih belum sebanding dengan kebutuhan industri. Hal ini menjadi tantangan tersendiri di tengah meningkatnya investasi asing, khususnya dari Tiongkok.
Direktur Surabaya International Institute of Business and Technology (SIIBT) Mandarin Surabaya, Andre So, mengatakan kebutuhan tenaga kerja yang mampu berbahasa Mandarin terus meningkat seiring bertambahnya perusahaan asal Tiongkok di Indonesia.
“Kebutuhan di lapangan memang tinggi, tetapi tenaga yang benar-benar siap kerja masih terbatas. Ini yang kemudian menjadi peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan bahasa Mandarin,” ujarnya.
Baca Juga: Rio Ngumoha dan Trey Nyoni Bersinar, Iraola Diminta Berani Beri Kesempatan Lebih
Ia menambahkan, penguasaan Mandarin tidak hanya dibutuhkan untuk penerjemah, tetapi juga untuk berbagai posisi lain yang berkaitan dengan komunikasi bisnis.
Di Surabaya, sejumlah lembaga pelatihan mulai merespons kebutuhan tersebut dengan membuka program pembelajaran bahasa Mandarin yang berorientasi pada dunia kerja. Program yang ditawarkan umumnya mencakup pembelajaran komunikasi bisnis serta jalur lanjutan seperti magang, studi lanjut, hingga peluang kerja di perusahaan mitra.
Penguasaan bahasa Mandarin kini mulai dilihat sebagai salah satu keterampilan tambahan yang relevan di pasar kerja, terutama bagi tenaga kerja yang ingin masuk ke perusahaan penanaman modal asing. Tren ini diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok. (*)
Editor : Lambertus Hurek