Virus Hepatitis B Jauh Lebih Menular, Perlu Deteksi Dini

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 17:45 WIB
Seorang ibu mendapatkan suntikan hepatitis di Surabaya. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

 
Seorang ibu mendapatkan suntikan hepatitis di Surabaya. (RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)  

 

RADAR SURABAYA - Peringatan Hari Hepatitis Sedunia menjadi momentum penting untuk meninjau kesiapan Indonesia mencapai target bebas Hepatitis pada tahun 2030. Pakar Kesehatan Ibu dan Anak Dewi Setyowati menyebut kunci utama keberhasilan terletak pada pemutusan rantai penularan dari ibu ke anak.

 Dewi mengingatkan, ketersediaan fasilitas pemeriksaan gratis dan terobosan medis dari pemerintah belum akan berjalan maksimal jika tidak disertai peningkatan pemahaman masyarakat serta penghapusan stigma yang masih berkembang di tengah masyarakat.

Baca Juga: Dorong Minat Sains Sejak Dini, Mahasiswa KKN ITS Gelar Program Literasi Sains di SD 162 Desa Petiken Gresik

 Ia menjelaskan, langkah pencegahan telah tersedia sejak masa pra-kehamilan melalui program Triple Eliminasi yang digratiskan di puskesmas untuk mendeteksi Hepatitis B, HIV, dan Sifilis pada calon pengantin maupun ibu hamil.

 “Program wajib ini memastikan jika calon ibu positif, puskesmas akan langsung berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan rumah sakit rujukan untuk menyiapkan langkah perlindungan lanjutan bagi sang bayi,” terangnya, Kamis (30/7).

 Saat persalinan tiba, bayi yang lahir dari ibu berstatus positif akan mendapatkan perlindungan ganda. Langkah ini sangat krusial mengingat hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan secara total infeksi Hepatitis B, melainkan hanya mampu menekan perkembangbiakan virus.

 “Selain imunisasi wajib dasar Hepatitis 0 yang diberikan pada usia 0–7 hari, bayi juga langsung memperoleh suntikan tambahan berupa Hepatitis B Immunoglobulin (HBIG),” jelasnya.

Baca Juga: BRI Bekali PMI di Taiwan dengan Kewirausahaan dan Literasi Keuangan untuk Bangun Usaha Produktif

 Adapun efektivitas vaksinasi Hepatitis B pada minggu pertama kehidupan telah mencapai 90 persen. Penambahan imunoglobulin bertujuan agar sistem kekebalan tubuh bayi semakin cepat mengenali virus.

 “Perlindungan ganda ini menjadi langkah krusial agar mata rantai penularan dari ibu ke bayi benar-benar terputus, sehingga generasi berikutnya memiliki kualitas hidup yang optimal,” tegas dosen Program Studi Kebidanan FK Unair tersebut.

 Meski program telah tersedia secara gratis dan terstruktur, tingkat pemahaman masyarakat mengenai Hepatitis B dinilai masih sangat rendah. “Banyak orang baru menyadari infeksi ketika sudah muncul gejala penyakit kuning. Padahal, pada fase awal virus kerap bersifat tanpa gejala dan sesungguhnya empat kali lebih menular dibandingkan HIV,” paparnya.

 Tantangan terberat lainnya adalah stigma sosial yang masih kuat serta hambatan edukasi di lingkungan keluarga. Ketidaktahuan mengenai cara penularan membuat penderita kerap dikucilkan, sementara campur tangan keluarga besar tak jarang menjadi penghalang pelaksanaan vaksinasi.

 “Stigma sosial sering kali lebih menyakitkan daripada penyakitnya itu sendiri. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang didengar oleh warga,” tegasnya.

Ia mengimbau agar dukungan keluarga dan para pemangku kepentingan menjadi garda terdepan dalam menyukseskan program kesehatan nasional.

“Masyarakat tidak perlu takut untuk melakukan pemeriksaan dan vaksinasi. Semakin cepat status kesehatan diketahui, semakin cepat pula penanganannya. Kesadaran bersama adalah kunci utama menuju target Nol Hepatitis 2030,” pungkasnya. (rmt)

 

Editor : Lambertus Hurek
hepatitis b HBIG bebas hepatitis imunisasi hepatitis hiv