Dari Bekas Lokalisasi Jadi Kampung Kreatif, Anak-anak Gang Dolly Belajar Batik dengan Canting Daur Ulang

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 03:18 WIB
Anak-anak menyusun canting cap dari limbah kertas dan kayu di Pasar Burung Dolly, RW 12 Kelurahan Putat Jaya, Surabaya. (Rahmat Sudrajat)
Anak-anak menyusun canting cap dari limbah kertas dan kayu di Pasar Burung Dolly, RW 12 Kelurahan Putat Jaya, Surabaya. (Rahmat Sudrajat)
RADAR SURABAYA – Wajah baru Gang Dolly di Surabaya semakin terlihat melalui berbagai kegiatan kreatif yang melibatkan masyarakat. 

Memperingati Hari Anak Nasional, sebanyak 40 anak mengikuti pelatihan membatik menggunakan Cantikyu, canting cap ramah lingkungan berbahan limbah kertas dan kayu, di Pasar Burung Dolly, RW 12, Kelurahan Putat Jaya, Selasa (28/7).

Suasana penuh tawa dan semangat mewarnai kegiatan yang diikuti anak-anak bersama orang tua serta relawan.

 Mereka belajar menyusun pola batik, merakit canting dari bahan daur ulang, hingga mencap motif pada kain. 

Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa kawasan yang dahulu dikenal sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara kini telah bertransformasi menjadi ruang edukasi, seni, dan pemberdayaan masyarakat.

Pasca penutupan lokalisasi, Gang Dolly perlahan berkembang sebagai pusat ekonomi kreatif.

Baca Juga: Kasus HIV pada Anak Meningkat, Pakar Ungkap Penyebab dan Cara Mencegahnya

Salah satu penggeraknya adalah Kelompok Usaha Bersama (KUB) Genarta yang mengembangkan batik cap khas kawasan tersebut.

Bersama Universitas Kristen (UK) Petra, KUB Genarta memperkenalkan inovasi Cantikyu, yaitu canting cap ramah lingkungan yang juga berfungsi sebagai media edukasi atau edukit.

Ketua Tim Pengabdian UK Petra, Aniendya Christianna, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mengenalkan teknik membatik kepada anak-anak, tetapi juga menanamkan nilai kesabaran, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya Indonesia sejak usia dini.

 "Edukit ini dirancang sebagai alat peraga pembelajaran moral, etika, dan seni budaya bagi anak, orang tua, maupun guru.

Berbeda dengan kegiatan membatik pada umumnya, anak-anak tidak langsung memegang kain atau kuas pewarna.

 Mereka justru diajak memahami bahwa sebuah karya lahir melalui proses yang membutuhkan ketelatenan," ujar Aniendya.

Proses belajar dimulai dengan merakit canting dari potongan kertas dan kayu bekas.

Meski beberapa anak sempat kesulitan, para pendamping terus memberikan arahan agar mereka memahami pentingnya kesabaran dalam menghasilkan sebuah karya.

Baca Juga: Hotel dengan Kolam Renang Outdoor dan View Pegunungan di Malang, Tempat Ideal untuk Staycation dan Olahraga

Setelah alat selesai dirakit, anak-anak mulai mencelupkan canting ke dalam lilin hangat sebelum mencapkannya pada kain putih.

Ada yang menekan terlalu pelan, ada pula yang terlalu kuat. Namun, setiap kesalahan justru menjadi bagian dari proses belajar yang disambut dengan gelak tawa.

Momen yang paling ditunggu adalah proses nglorot, yakni pelepasan lapisan lilin dari kain sehingga motif batik mulai terlihat.

Sorak kegembiraan langsung terdengar ketika hasil karya mereka muncul untuk pertama kalinya.

 "Paling senang pas gambarnya keluar," kata Alea, salah seorang peserta.

Salah satu orang tua peserta, Lilik Anani, mengapresiasi kegiatan tersebut karena mampu mengenalkan budaya membatik kepada anak-anak di tengah dominasi penggunaan gawai.

"Sangat bermanfaat karena mengajak anak-anak kembali mengenal budaya batik. Di era sekarang, anak-anak rentan melupakan warisan budaya jika tidak dikenalkan secara langsung," tuturnya.

Selain melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia, kegiatan ini juga mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan melalui pemanfaatan limbah kertas dan kayu menjadi alat yang bernilai edukatif.

Transformasi Gang Dolly kini tidak lagi hanya menjadi simbol perubahan kawasan bekas lokalisasi, tetapi juga menjadi contoh keberhasilan pemberdayaan masyarakat berbasis pendidikan, budaya, dan ekonomi kreatif.

Lewat tangan-tangan kecil yang belajar membatik, harapan baru terus tumbuh dari kawasan yang kini dikenal sebagai ruang kreativitas warga Surabaya.(rmt) 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Batik hari anak nasional gang dolly uk petra