RADAR SURABAYA – Meningkatnya temuan kasus HIV pada anak usia sekolah menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Di balik bertambahnya jumlah kasus yang terdeteksi, para ahli menilai kondisi tersebut tidak selalu menjadi pertanda memburuknya penyebaran penyakit.
Sebaliknya, peningkatan temuan kasus juga menunjukkan bahwa upaya skrining dan deteksi dini mulai berjalan lebih efektif sehingga pasien dapat memperoleh penanganan sejak awal.
Pakar kebidanan Dewi Setyowati menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengendalian HIV bukan hanya terletak pada aspek medis,
tetapi juga pada rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan serta masih kuatnya stigma terhadap penyandang HIV.
Menurut Dewi, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga penderitanya lebih rentan mengalami berbagai infeksi.
Kematian pada penyandang HIV umumnya bukan disebabkan oleh virus itu sendiri, melainkan akibat infeksi oportunistik atau komplikasi yang muncul ketika daya tahan tubuh terus menurun.
Baca Juga: ITS Kembangkan Mobil Otonom Terjangkau, Ubah Mobil Listrik Bisa Berjalan Tanpa Sopir
"Semakin cepat seseorang mengetahui status HIV-nya, semakin cepat pula tata laksana dapat diberikan.
Meskipun jumlah kasus yang terdeteksi terlihat meningkat, hal itu justru dapat menjadi indikator bahwa skrining berjalan lebih baik sehingga pasien memperoleh penanganan lebih awal," ujarnya, Selasa (28/7).
Ia menjelaskan bahwa deteksi dini memberikan peluang besar bagi penyandang HIV untuk menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin.
Dengan pengobatan yang tepat dan kepatuhan dalam menjalani terapi, penyandang HIV dapat hidup sehat, produktif, serta memiliki harapan hidup yang hampir setara dengan masyarakat pada umumnya.
Dewi juga menyoroti meningkatnya temuan kasus HIV pada anak. Menurutnya, kondisi tersebut memerlukan penelusuran epidemiologis secara menyeluruh karena sebagian besar penularan HIV pada anak terjadi secara vertikal,
yaitu dari ibu kepada bayi selama masa kehamilan, persalinan, maupun menyusui apabila tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
Karena itu, pemeriksaan HIV pada ibu hamil menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penularan dari ibu ke anak.
Dengan deteksi lebih dini, tenaga kesehatan dapat memberikan terapi yang sesuai sehingga risiko penularan dapat ditekan secara signifikan.
Selain penanganan medis, Dewi menilai stigma masih menjadi hambatan terbesar dalam upaya pengendalian HIV di Indonesia.
Banyak masyarakat yang masih memiliki pemahaman keliru bahwa HIV hanya menyerang kelompok tertentu.
Padahal, penyakit tersebut dapat dialami oleh siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun latar belakang sosial.
"HIV tidak menular melalui berjabat tangan, berbincang, makan bersama, ataupun hidup berdampingan.
Pemahaman yang keliru inilah yang membuat banyak penyandang HIV dijauhi sehingga mereka enggan menjalani pemeriksaan maupun pengobatan," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa rasa takut terhadap diskriminasi sering kali membuat seseorang menunda pemeriksaan hingga kondisinya sudah memasuki stadium lanjut.
Akibatnya, peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih kecil dibandingkan apabila penyakit terdeteksi sejak dini.
Untuk menekan penyebaran HIV, Dewi mengajak masyarakat menerapkan pendekatan ABCDE, yaitu Abstinent (tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah),
Be Faithful (setia kepada pasangan), Condom (menggunakan kondom pada kondisi berisiko), Drugs (tidak berbagi jarum suntik), dan Education (meningkatkan edukasi mengenai HIV).
Menurutnya, keluarga memegang peran penting dalam membangun pemahaman anak mengenai kesehatan reproduksi, perilaku hidup sehat, serta pentingnya memperoleh informasi dari sumber yang benar.
Edukasi yang diberikan sejak dini akan membantu generasi muda memahami cara mencegah penularan HIV sekaligus menghilangkan stigma terhadap penyandangnya.
"Pemerintah telah menghadirkan berbagai program, seperti skrining dan pengobatan yang ditanggung.
Namun, upaya tersebut perlu didukung oleh keluarga melalui edukasi yang benar, pendampingan, serta keterbukaan terhadap informasi kesehatan yang valid agar penanganan HIV semakin optimal," pungkasnya. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan