Banjir Rob Kalianak Surabaya Makin Parah, Pakar Ungkap Penyebab dan Solusi Jangka Panjang

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 06:14 WIB
Banjir rob yang menggenangi kawasan Kalianak, Surabaya, beberapa waktu lalu. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)
Banjir rob yang menggenangi kawasan Kalianak, Surabaya, beberapa waktu lalu. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA – Banjir rob yang melanda kawasan Kalianak, Surabaya, mencapai puncaknya pada 12–18 Juli lalu dan menyebabkan kerugian bagi warga.

Meski merupakan fenomena alam yang terjadi akibat pasang surut air laut, kondisi banjir rob kini semakin mengkhawatirkan karena dipengaruhi perubahan iklim dan penurunan muka tanah.

Pakar Manajemen Bencana, Hijrah Saputra, menjelaskan bahwa banjir rob merupakan peristiwa alamiah yang dipicu oleh siklus pasang surut air laut akibat gaya gravitasi bulan dan matahari.

Kawasan Kalianak yang berada di wilayah muara juga termasuk zona rawan sehingga lebih rentan mengalami genangan saat pasang laut mencapai titik tertinggi.

Baca Juga: Mentan Amran Sulaiman Borong Hasil Riset ITS, Beli Benih Jagung Rp10 Miliar dan Alat Pertanian Inovatif

"Lokasi Kalianak berada di muara dan masuk zona merah, sehingga sangat rentan saat pasang tinggi," ujar Hijrah, Rabu (22/7).

Namun, menurutnya, faktor alam bukan satu-satunya penyebab. Perubahan iklim global turut memicu kenaikan muka air laut dengan rata-rata sekitar 0,3–0,6 sentimeter per tahun.

Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah secara berlebihan serta berkurangnya daerah resapan karena perubahan tata guna lahan.

"Ditambah lagi penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan, serta perubahan tata guna lahan yang mengurangi daerah resapan," jelasnya.

Hijrah mengungkapkan, banjir rob di Kalianak kini dapat terjadi selama lima hingga enam hari berturut-turut dengan ketinggian genangan mencapai 30–40 sentimeter.

Durasi genangan pun semakin lama karena kapasitas saluran drainase terus menurun akibat sedimentasi dan penumpukan sampah.

Untuk mengurangi dampak banjir rob, Hijrah mendorong pemerintah menerapkan langkah penanganan secara terpadu.

Dari sisi infrastruktur, normalisasi saluran drainase perlu dilakukan sedikitnya dua kali dalam setahun, disertai penerapan konsep ekodrainase, pembangunan pintu air otomatis, dan penyediaan kolam retensi.

Di sisi lain, upaya nonstruktural juga dinilai tidak kalah penting. Pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan edukasi kepada masyarakat,

serta menegakkan aturan terkait pembuangan sampah agar saluran air tetap berfungsi optimal.

Baca Juga: Bursa Transfer: Deal! Aston Villa Sepakat Rekrut Alejandro Garnacho dari Chelsea

"Sosialisasi sederhana, tetapi sangat krusial. Jika tidak dipatuhi, sanksi denda perlu diterapkan," tegas dosen Program Studi Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) tersebut.

Untuk solusi jangka pendek, Hijrah menyarankan penggunaan pintu air otomatis dan pompa pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu menyesuaikan kondisi pasang surut air laut secara real time.

Sementara itu, solusi jangka panjang membutuhkan pembangunan tanggul yang ramah lingkungan serta relokasi secara bertahap bagi warga yang tinggal di kawasan dengan risiko banjir rob tinggi.

"Ini langkah paling penting meski sensitif. Warga sudah puluhan tahun menetap di sana, namun keselamatan harus diutamakan," pungkasnya.(rmt) 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
hijrah saputra surabaya banjir rob kalianak