Kebun Raya Mangrove Disulap Jadi Laboratorium Hidup, Pemkot Surabaya Siapkan Edukasi Energi Terbarukan

Dimas Mahendra • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 16:36 WIB
PERBAIKAN: Pemerintah Kota Surabaya mengembangkan Kebun Raya Mangrove (KRM) menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata.
PERBAIKAN: Pemerintah Kota Surabaya mengembangkan Kebun Raya Mangrove (KRM) menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata.

RADAR SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengembangkan Kebun Raya Mangrove (KRM) menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata. Kawasan konservasi itu kini dipersiapkan sebagai living laboratory atau laboratorium hidup yang memungkinkan pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat belajar langsung tentang pemanfaatan energi terbarukan.

Melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida), Pemkot Surabaya menghadirkan berbagai teknologi pembangkit energi ramah lingkungan di kawasan tersebut. Selain memperkuat fungsi edukasi, langkah ini juga diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya transisi menuju energi bersih.

Baca Juga: Antisipasi Dampak Abrasi dan El Nino, PDI Perjuangan Surabaya Pastikan Kelestarian Mangrove

Kepala Brida Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji mengatakan, konsep pengembangan itu disesuaikan dengan karakter Kebun Raya Mangrove sebagai kawasan konservasi dan kawasan lindung.

"Karena kawasan ini merupakan area konservasi, energi baru terbarukan menjadi bagian yang harus kami hadirkan. Kami membuat model-model mini agar siswa SD, SMP, SMA hingga mahasiswa bisa belajar secara langsung bagaimana energi ramah lingkungan bekerja," ujar Agus, Rabu (22/7).

Baca Juga: Peringati Hari Bumi, BRI Perkuat Komitmen Jaga Ekosistem Pesisir Lewat Penanaman Mangrove di Muara Gembong Bekasi 

Sedikitnya ada tiga teknologi yang akan menjadi sarana pembelajaran di KRM. Pertama, panel surya yang memanfaatkan energi matahari. Kedua, Terangin, inovasi pembangkit listrik berbasis angin pesisir. Ketiga, teknologi pirolisis yang mampu mengolah sampah plastik menjadi energi alternatif.

Menurut Agus, seluruh fasilitas tersebut tidak ditujukan untuk menghasilkan listrik dalam skala besar, melainkan sebagai media edukasi interaktif.

Baca Juga: Bupati Sidoarjo Ingin Kembangkan Wisata Mangrove di Sedati, Siapkan Akses Jalan Lewati Lahan TNI AL

"Pengunjung nantinya bisa melihat secara langsung bagaimana sinar matahari, angin, maupun sampah plastik diolah menjadi energi listrik. Harapannya, tempat ini menjadi laboratorium hidup yang memberikan pengalaman belajar secara nyata," katanya.

Sementara itu, pendamping pengolahan pirolisis di KRM, Ir. Edy Hartono, menjelaskan teknologi pirolisis mampu mengubah sampah plastik maupun biomassa berupa daun dan ranting kering menjadi tiga produk utama, yakni gas, bahan bakar cair, dan residu padat.

Baca Juga: Banjir Rob di Surabaya Semakin Parah, Mangrove Hilang Jadi Penyebab Utama

"Fokus utama kami adalah mengolah sampah plastik menjadi gas dan bahan bakar cair. Gas tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Jadi, sampah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan justru memiliki nilai tambah," jelas Edy.

Ia mengungkapkan, hasil uji coba menunjukkan volume sampah plastik yang terkumpul di kawasan KRM, terutama saat akhir pekan, cukup potensial untuk dikonversi menjadi energi. Selain menjadi media pembelajaran, listrik yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas di kawasan tersebut.

Tak hanya sampah plastik, limbah biomassa seperti daun dan ranting kering juga akan diolah menggunakan teknologi yang sama sehingga tidak lagi menjadi tumpukan sampah.

Menurut Edy, konsep tersebut berpotensi dikembangkan sebagai model pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) skala kecil yang murah dan mudah diterapkan di berbagai TPS 3R di Surabaya. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.

"Tantangan terbesar adalah membangun budaya memilah sampah. Jika masyarakat dapat memisahkan sampah plastik dan biomassa sejak awal, proses pengolahannya akan jauh lebih efektif," ujarnya.

Selain menghadirkan fasilitas edukasi, Pemkot Surabaya juga terus memperkuat fungsi ekologis dan rekreasi Kebun Raya Mangrove. Berdasarkan kajian Urban Heat, kawasan tersebut menjadi salah satu titik dengan suhu paling sejuk di Surabaya berkat tutupan vegetasi mangrove yang lebat.

Untuk mendukung aktivitas masyarakat, Pemkot juga membangun jalur baru sepanjang dua kilometer di atas pematang tambak. Jalur tersebut akan dimanfaatkan sebagai lintasan Mangrove Eco Run yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Juli 2026.

Melalui berbagai inovasi tersebut, Kebun Raya Mangrove diharapkan berkembang menjadi pusat pembelajaran lingkungan, riset, olahraga, sekaligus destinasi wisata edukatif yang mampu menumbuhkan budaya ramah lingkungan di Kota Surabaya. (dim/vga)

 

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar surabaya
Edukasi pemkot mangrove laboratorium kebun