Adopsi Praktik Australia, Unesa Bekali Calon Guru Pahami Karakter Siswa

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 18:06 WIB
PENDIDIKAN: Kuliah tamu bertajuk Every Learner Is Different
PENDIDIKAN: Kuliah tamu bertajuk Every Learner Is Different: Turning Classroom Diversity into a Publishable Scientific Article di Auditorium LPSP Kampus II Lidah Wetan.

RADAR SURABAYA - Tantangan guru di era modern tidak lagi sebatas menyampaikan materi di dalam kelas. Pendidik dituntut mampu memahami keberagaman karakter siswa sekaligus mengembangkan pengalaman mengajar menjadi karya ilmiah yang bermanfaat.

Untuk membekali kompetensi tersebut, Badan Pendidikan Profesi Guru (BPPG) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar kuliah tamu bertajuk Every Learner Is Different: Turning Classroom Diversity into a Publishable Scientific Article di Auditorium LPSP Kampus II Lidah Wetan.

Baca Juga: Ketahuan Chat Tidak Etis di WA Group, Enam Mahasiswa Unesa Surabaya Dinonaktifkan

Kegiatan itu menghadirkan dua guru besar dari University of Newcastle, Australia, yakni Scott Imig dan Susan Ledger, yang berbagi pengalaman mengenai praktik pendidikan dan penelitian di kelas.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, mengatakan kuliah tamu tersebut menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk memperluas wawasan tentang profesionalisme guru di tingkat internasional.
Baca Juga: Sekolah Kekurangan Guru di Surabaya Terbantu, Unesa Terapkan Skema Baru Penempatan Mahasiswa PPG

"Mendidik berbeda dengan sekadar mengajar. Ini kesempatan menyerap pandangan global tentang profesionalisme guru yang mampu menyeimbangkan praktik pembelajaran di kelas dengan kontribusi ilmiah," ujarnya, Selasa (21/7).

Dalam pemaparannya, Scott Imig menjelaskan bahwa langkah pertama dalam menghadapi keberagaman siswa adalah membangun kesadaran diri sebagai seorang pendidik. Guru, menurutnya, harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berbasis pengalaman sehingga setiap siswa merasa dihargai sesuai kebutuhan masing-masing.

Baca Juga: 353 Calon Mahasiswa Kedokteran Unesa Jalani Seleksi Ketat, Diperiksa Metal Detector untuk Cegah Kecurangan

Sementara itu, Susan Ledger mendorong calon guru untuk lebih jeli melihat berbagai persoalan di kelas sebagai peluang penelitian. Ia memperkenalkan lima tahapan dalam menyusun abstrak penelitian yang kuat, yakni locate, focus, anchor, report, dan argue.

Kepala BPPG Unesa, Fatkur Rohman Kafrawi, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut kolaborasi 10 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam program Indonesia–Australia Teacher Education Cooperation (IATEC).

Baca Juga: Unesa Gelar SDGs FAIR 2026 di Bali, Puluhan Inovasi Pengabdian Dukung Pembangunan Berkelanjutan

"Kami mengadopsi praktik baik pendidikan di Australia, terutama dalam penguatan literasi, kemampuan berpikir kritis, dan kedisiplinan, agar calon guru benar-benar siap menghadapi tantangan dunia pendidikan," jelasnya.

Salah seorang peserta, Silvia Aprilita Eka Prasetya, mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut.

"Saya mendapat gambaran nyata bagaimana menyusun Penelitian Tindakan Kelas berdasarkan keberagaman karakter siswa, sekaligus strategi agar karya ilmiah kami dapat dipublikasikan di jurnal nasional maupun internasional bereputasi," ungkapnya. (rmt/vga)

 

Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar surabaya
adopsi UNESA siswa australia Praktik