RADAR SURABAYA – Fenomena udara dingin atau bediding yang terjadi di Surabaya dalam beberapa waktu terakhir memicu beragam persepsi di masyarakat.
Sebagian orang menganggap suhu dingin menjadi penyebab langsung flu maupun masuk angin. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Petra Surabaya, dr. Octavianus Eka Saputra, Sp.A., mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tanpa perlu panik menghadapi fenomena tersebut.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ialah bayi, anak-anak, lansia, serta penderita penyakit kronis seperti hipertensi dan gangguan jantung.
Menurut dr. Eka, flu bukan disebabkan oleh suhu udara yang dingin, melainkan infeksi virus. Namun, udara dingin dan kering dapat mengurangi kemampuan alami tubuh dalam melindungi saluran pernapasan.
"Faktanya, flu disebabkan oleh virus, bukan suhu udara. Namun, udara dingin dan kering dapat mengeringkan lapisan lendir pelindung saluran pernapasan. Akibatnya, pertahanan alami tubuh melemah sehingga virus lebih mudah masuk," ujarnya, Senin (20/7).
Baca Juga: BBPOM Pastikan Gudang Alat Kontrasepsi BKKBN Jatim Penuhi Standar
Selain meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, udara dingin juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular.
Saat suhu lingkungan menurun, pembuluh darah di permukaan kulit akan menyempit untuk mempertahankan suhu tubuh. Kondisi ini dapat memicu kenaikan tekanan darah secara mendadak.
"Penderita hipertensi dan gangguan jantung harus jauh lebih waspada selama fenomena ini berlangsung," tegasnya.
Berdasarkan data BMKG, fenomena bediding terjadi akibat pengaruh Angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering serta kondisi langit yang relatif cerah pada musim kemarau.
Minimnya tutupan awan menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas pada malam hari sehingga suhu udara terasa lebih dingin.
Fenomena ini diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus dan masih dapat berlangsung sampai September.
Untuk mengurangi dampak udara dingin, dr. Eka menyarankan masyarakat mengenakan pakaian hangat berlapis, memakai kaus kaki, serta menggunakan selimut saat malam hingga dini hari.
Asupan cairan dan nutrisi juga perlu dijaga karena udara dingin sering kali membuat rasa haus tidak terasa.
Ia juga mengimbau masyarakat tetap menjaga kebersihan tangan, rutin berolahraga ringan, dan memperoleh waktu istirahat yang cukup agar daya tahan tubuh tetap optimal.
Orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi, sesak napas, atau tampak lemas.
"Bediding merupakan dinamika alam yang wajar. Yang terpenting bukan merasa cemas terhadap udara dingin, melainkan menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan pola hidup sehat," pungkasnya. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan