Inovasi AI Mahasiswa ITS Tingkatkan Akurasi Diagnosis Kanker Prostat

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 17:31 WIB
Jefta Kenna Shalom Tarigan, berhasil mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mempermudah sekaligus meningkatkan akurasi diagnosis kanker prostat.
Jefta Kenna Shalom Tarigan, berhasil mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mempermudah sekaligus meningkatkan akurasi diagnosis kanker prostat.

RADAR SURABAYA – Inovasi di bidang teknologi kesehatan kembali lahir dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Mahasiswa angkatan pertama Program Studi Teknologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS, Jefta Kenna Shalom Tarigan,

berhasil mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mempermudah sekaligus meningkatkan akurasi diagnosis kanker prostat.

Inovasi tersebut diwujudkan melalui penelitian bertajuk Computer-Aided Diagnosis (CAD) System yang memanfaatkan algoritma deep learning ganda, yaitu nnU-Net.

Sistem ini dirancang untuk mengotomatisasi penilaian risiko kanker prostat berdasarkan citra multiparametric magnetic resonance imaging (mpMRI), sehingga proses diagnosis menjadi lebih cepat, objektif, dan akurat.

Jefta menjelaskan bahwa algoritma yang dikembangkannya mengacu pada standar internasional Prostate Imaging Reporting and Data System (PI-RADS) yang mengelompokkan tingkat risiko kanker prostat ke dalam skala 1 hingga 5.

Baca Juga: ‎Modernisasi Pasar Harus Menyejahterakan Pedagang Lama, DPRD Surabaya Minta Fasilitas dan Keadilan Jadi Prioritas

"Algoritma ini bekerja mengacu pada standar internasional PI-RADS yang membagi tingkat risiko kanker prostat dalam skala 1 hingga 5," ujarnya, Senin (20/7).

Keunggulan utama sistem AI tersebut tidak hanya menghasilkan klasifikasi risiko secara objektif, tetapi juga mampu memvisualisasikan lokasi tumor secara jelas.

Fitur ini membantu mengurangi perbedaan interpretasi hasil pemeriksaan antardokter sekaligus memandu tindakan biopsi agar lebih presisi.

Menurut Jefta, pendekatan multidisiplin menjadi nilai lebih dalam pengembangan inovasi tersebut karena menggabungkan rekayasa teknologi dengan kebutuhan klinis di dunia medis.

"Pendekatan multidisiplin yang memadukan teknologi rekayasa dengan kebutuhan klinis inilah yang menjadi daya tarik utama bagi para juri," jelasnya.

Sementara itu, Dekan FKK ITS, dr. Lukman Hakim, M.Kes., Sp.U(K)., Ph.D., menegaskan bahwa keberhasilan tersebut mencerminkan kualitas kurikulum yang diterapkan di Program Studi Teknologi Kedokteran ITS.

Menurutnya, kurikulum dirancang agar mahasiswa memiliki kompetensi yang seimbang antara ilmu kedokteran dan teknologi sehingga mampu menghadirkan solusi inovatif bagi dunia kesehatan.

"Program Studi Teknologi Kedokteran ITS memang dirancang dengan porsi 30 persen ilmu kedokteran dasar sehingga mahasiswa memahami konsep klinis sekaligus menguasai teknologi.

Teknologi kesehatan tidak akan dapat berkembang tanpa pendekatan lintas bidang," katanya.

Pengembangan sistem AI untuk diagnosis kanker prostat ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, terutama dalam mendukung deteksi dini penyakit dan membantu tenaga medis mengambil keputusan klinis secara lebih akurat.

Inovasi tersebut juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta Tujuan 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. (rmt)

 

 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) its surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember