RADAR SURABAYA - Pemerintah pusat akan membangun tiga jalan layang (flyover) baru di Kota Surabaya sebagai bagian dari proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) atau kereta komuter listrik Surabaya Raya. Ketiga flyover tersebut akan dibangun di kawasan Ambengan, Pahlawan, dan Bung Tomo dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur, Nyono, mengatakan pembangunan tiga flyover itu akan dilakukan bersamaan dengan konstruksi SRRL Fase 1A yang menghubungkan Stasiun Surabaya Gubeng hingga Stasiun Sidoarjo sepanjang 37 kilometer.
"Pembangunan ketiga flyover tersebut akan berjalan secara simultan dengan pengerjaan fisik SRRL pada 2027 hingga 2029," kata Nyono, Jumat (17/7).
Ia menjelaskan, proyek tersebut berbeda dengan rencana pembangunan Flyover Taman Pelangi di Jalan Ahmad Yani, Wonokromo, yang juga akan dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dalam waktu dekat.
Nyono menegaskan seluruh pembiayaan pembangunan tiga flyover maupun proyek SRRL bersumber dari APBN sehingga tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jawa Timur.
"Seluruh pembangunan fisik infrastruktur penunjang ini dibiayai pemerintah pusat melalui APBN," ujarnya.
Menurut Nyono, konstruksi SRRL Fase 1A dijadwalkan dimulai pada awal 2027 setelah penyusunan Detail Engineering Design (DED) rampung. Tahap awal pekerjaan akan difokuskan pada pembangunan dan penataan Depo Sidotopo, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan jalur rel menuju Sidoarjo.
"Pemerintah pusat menargetkan SRRL fase pertama selesai pada 2029 dan sudah bisa dimanfaatkan masyarakat di kawasan aglomerasi Surabaya Raya," jelasnya.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan proyek SRRL kini telah memasuki tahap penyusunan DED yang dikerjakan oleh firma konsultan teknik asal Jepang, Chodai Co., Ltd., sejak awal 2026.
"Kita sudah mulai tahapannya. Penyusunan DED menandakan proyek ini sudah berjalan," ujar Dudy saat berkunjung ke Gedung Negara Grahadi beberapa waktu lalu.
Ia berharap penyusunan DED dapat selesai sesuai jadwal sehingga proses lelang konstruksi bisa segera dilaksanakan. Dokumen tersebut meliputi perencanaan infrastruktur, pengembangan jalur, peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang, hingga berbagai rekomendasi teknis pembangunan.
Proyek SRRL Fase 1A didanai oleh Bank Pembangunan Jerman (KfW Development Bank) dengan nilai kontrak sebesar 230 juta euro atau sekitar Rp 4,7 triliun.
Pemerintah menargetkan layanan kereta komuter listrik tersebut mulai beroperasi pada 2029 sebagai upaya memperkuat konektivitas transportasi publik di kawasan Surabaya, Sidoarjo, dan wilayah aglomerasi sekitarnya. (mus/vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar surabaya