RADAR SURABAYA – Profesor di bidang Pendidikan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Ira Nurmala, S.KM., M.PH., Ph.D., terus mendorong lahirnya generasi muda yang mampu menjadi agen perubahan di masyarakat.
Sebagai pencetus program Health Educator for Youth (HEY), Prof. Ira telah menjalin kolaborasi Indonesia–Australia sejak 2018 untuk memperkuat peran mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Selama ini, ia dikenal aktif mengembangkan berbagai program pemberdayaan remaja agar mampu menjadi agent of change melalui pendidikan dan kolaborasi lintas negara.
Baca Juga: Unair Kirim 171 Mahasiswa KKN ke Ngawi, Fokus Entaskan Kemiskinan Lewat Pendampingan
Kali ini, Prof. Ira bersama Dayinta Annisa Syaiful, S.KM., M.KKK., M.GPH. dari FKM UNAIR kembali menggandeng Federation University dan Griffith University, Australia, dalam program Increasing College Student Capacity as Agents of Change to Participate in Community Development (Indonesia and Australia).
Program ini bertujuan membekali mahasiswa Indonesia dan Australia dengan kemampuan kepemimpinan, public speaking, dan pemecahan masalah agar lebih siap berkontribusi dalam kegiatan pengembangan masyarakat.
Kerja sama ini juga menjadi bagian dari kolaborasi World University Association for Community Development (WUACD), di mana Prof. Ira dipercaya sebagai Project Coordinator padabidang Innovative Education and Long life Learning.
Baca Juga: Fakultas Kedokteran Masih Jadi Favorit, Unair Terima 1.200 Mahasiswa Baru Jalur Mandiri 2026
Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan penguatan kapasitas mahasiswa sebagai agen perubahan melalui pendekatan berbasis riset, pembelajaran lintas budaya, serta pengembangan kompetensi kepemimpinan.
Isu Planetary Health diangkat sebagai kerangka utama untuk menghubungkan kesehatan manusia dengan keberlanjutan lingkungan, sekaligus mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan pengembangan masyarakat.
Ketua tim peneliti, Prof. Ira Nurmala, S.KM., M.PH., Ph.D., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di masyarakat.
"Karena itu, kami mengembangkan program ini sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengasah public speaking dan leadership, melalui pengalaman belajar lintas negara. Harapannya, mahasiswa memiliki bekal yang lebih kuat untuk menjalankan perannya sebagai agent of change," tuturnya.
Baca Juga: Selesaikan S-3, Dokter Gigi Unair Kembangkan Biomaterial Lokal untuk Selamatkan Gigi Goyang
Prof. Ira menambahkan, agar program ini benar-benar berdampak dan bisa diterapkan secara berkelanjutan, tim juga berdiskusi dengan berbagai pakar dan praktisi di Indonesia maupun Australia, mulai dari bidang manajemen bencana, promosi kesehatan, danPlanetary Health.
“Masukan dari mereka digunakan untuk menyempurnakan program sehingga tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga bagi institusi pendidikan dan komunitas yang bergerak di bidang Planetary Health,” terangnya.
Dia menambahkan, program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), 4 (Pendidikan Berkualitas), dan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Program diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) yang mempertemukan mahasiswa Universitas Airlangga dan Federation University di Surabaya pada Januari 2026.
“Kegiatan ini bertujuan menggali kebutuhan, pengalaman, serta tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam menjalankan perannya sebagai agen perubahan di masyarakat,” imbuhnya.
Hasil FGD kemudian menjadi dasar penyusunan capacity building yang dilaksanakan di Griffith University, Gold Coast, Australia, pada 22–29 April 2026. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 100 mahasiswa dari Universitas Airlangga dan Griffith University.
Selama pelatihan, peserta mengasah kemampuan kepemimpinan dan public speaking. Kemampuan-kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menjalankan perannya sebagai agen perubahan dalam kegiatan pengembangan masyarakat.
Efektivitas program diukur melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kompetensi mahasiswa setelah mengikuti rangkaian pelatihan. Secara keseluruhan, rata-rata nilai peserta meningkat dari 80,5 persen menjadi 92,5 persen.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan capacity building berhasil memperkuat pengetahuan, sikap, dan keterampilan mahasiswa, khususnya dalam aspek kepemimpinan dan public speaking sebagai bekal untuk menjalankan peran mereka sebagai agen perubahan di masyarakat.
Melalui kolaborasi ini, Universitas Airlangga bersama Federation University dan Griffith University berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia dan Australia yang siap berkontribusi dalam pembangunan masyarakat sekaligus memperkuat kerja sama pendidikan antara kedua negara. (vga)
Editor : Vega Dwi AristaSumber : radar surabaya