Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Di Tengah Gempuran AI, Untag Surabaya Ingatkan Perguruan Tinggi Jangan Kehilangan Karakter dan Amanah

Rahmat Sudrajat • Minggu, 12 Juli 2026 | 18:45 WIB
Jajaran pimpinan Untag Surabaya saat berziarah untuk merefleksikan nilai-nilai kepemimpinan dan amanah pendidikan yang diwariskan Sunan Gunung Jati.
Jajaran pimpinan Untag Surabaya saat berziarah untuk merefleksikan nilai-nilai kepemimpinan dan amanah pendidikan yang diwariskan Sunan Gunung Jati.

RADAR SURABAYA – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), transformasi digital, dan persaingan global, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya mengejar kemajuan teknologi.

 Dunia pendidikan juga harus tetap menjaga karakter, integritas, amanah, dan kepedulian sosial sebagai fondasi utama.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., bersama Wakil Rektor I Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, S.Psi., M.Si., Psikolog, dan Wakil Rektor II Supangat, Ph.D., COBIT, CLA, CISA,

saat melakukan refleksi kepemimpinan melalui ziarah ke Cirebon dengan meneladani nilai-nilai yang diwariskan Sunan Gunung Jati.

Harjo menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan moral dan etika.

Baca Juga: Tren Jam Tangan Mewah di Surabaya, Kolektor Rela Rogoh Kocek hingga Ratusan Juta

"Kemajuan tidak semata ditopang oleh infrastruktur dan teknologi. Fondasi terkuat adalah karakter, integritas, dan niat baik untuk melayani. Teknologi hanyalah alat. Tanpa etika dan moral, kemajuan bisa kehilangan arah," ujar Harjo, Minggu (12/7).

Petuah Sunan Gunung Jati Jadi Kompas Pendidikan

Menurut Harjo, nilai luhur dalam petuah Sunan Gunung Jati, Ingsun titip tajug lan fakir miskin, menjadi pedoman Untag Surabaya dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang berorientasi pada kualitas akademik sekaligus pengabdian kepada masyarakat.

Makna "tajug" dipahami sebagai rumah ilmu yang harus terus dijaga kualitasnya. Karena itu, Wakil Rektor I mendapat amanah menjaga mutu akademik sekaligus membentuk karakter lulusan agar mampu bersaing di era digital tanpa kehilangan kompas moral.

Sementara itu, makna "fakir miskin" menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi harus berpihak kepada masyarakat.

Wakil Rektor II menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan dan aset bukan sekadar persoalan administratif, melainkan amanah publik yang harus dijalankan secara jujur, transparan, dan bertanggung jawab layaknya Baitul Mal modern.

 "Digitalisasi, pembangunan fasilitas, hingga perluasan program beasiswa merupakan bentuk nyata dari amanah tersebut. Seluruhnya dikembalikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan," jelasnya.

AI Harus Diimbangi Nilai Kemanusiaan

Untag Surabaya menilai perkembangan AI membuka peluang besar bagi dunia pendidikan.

Namun, pemanfaatannya harus tetap diiringi penguatan nilai-nilai kemanusiaan agar teknologi menjadi sarana meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan menggantikan peran moral manusia.

Selain itu, pimpinan Untag juga mengambil inspirasi dari sejarah Cirebon yang sejak dahulu menjadi pelabuhan internasional tempat bertemunya bangsa Arab, Tiongkok, Eropa, dan Nusantara.

Keterbukaan terhadap peradaban luar dinilai menjadi contoh bagaimana menerima kemajuan tanpa kehilangan identitas budaya.

Nilai tersebut kini diterapkan Untag Surabaya melalui penguatan kolaborasi internasional. Mahasiswa didorong memiliki daya saing global, tetapi tetap menjunjung tinggi patriotisme, semangat kebangsaan, dan kepedulian sosial.

 "Menuju Untag Surabaya 2026, kita tidak hanya ingin menjadi lebih modern, tetapi juga semakin bermakna bagi kemanusiaan. Itulah warisan paling berharga dari Cirebon," pungkas Harjo. (rmt)

 

 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Ingsun titip tajug lan fakir miskin #universitas 17 agustus 1945 #untag