Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Cross Culture Festival 2026 di Surabaya, Delegasi Empat Negara Perkuat Diplomasi Budaya Kota Pahlawan

Dimas Mahendra • Minggu, 12 Juli 2026 | 15:24 WIB
ELEGAN: Cross Culture Festival (CCF) ke-17 yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
ELEGAN: Cross Culture Festival (CCF) ke-17 yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

RADAR SURABAYA - Balai Pemuda Surabaya dipenuhi ratusan penonton yang menikmati suguhan seni lintas budaya dalam gelaran Culture Night. Acara tersebut menjadi salah satu agenda utama Cross Culture Festival (CCF) ke-17 yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Beragam pertunjukan tari, musik, hingga teater dari delegasi dalam dan luar negeri tampil bergantian, menghadirkan perpaduan budaya yang memukau sekaligus memperlihatkan kekayaan tradisi dari berbagai belahan dunia.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Lilik Arijanto, mengatakan Cross Culture Festival bukan hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang diplomasi budaya yang mempertemukan berbagai bangsa melalui seni.

"Kami ingin Surabaya menjadi kota yang modern tanpa kehilangan akar budayanya. Menjadi kota yang maju, namun tetap menghargai keberagaman sebagai kekuatan bersama," ujar Lilik.

Menurutnya, selama tiga hari pelaksanaan festival, para delegasi juga diajak mengenal berbagai destinasi unggulan Kota Pahlawan. Mulai dari kawasan Kota Lama Surabaya, susur Sungai Kalimas, mengikuti lokakarya budaya, pemutaran film, hingga pementasan massal Tari Remo dan Yosakoi.

"Kami berharap melalui acara ini ruang kreatif bagi para seniman dan generasi muda semakin terbuka sehingga mampu mengharumkan nama Surabaya di tingkat dunia," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Surabaya, Ridzotullahmad Nurchakim, menjelaskan CCF tahun ini diikuti 14 delegasi dari dalam maupun luar negeri.

Delegasi internasional berasal dari Xiamen (Tiongkok), India, Thailand, Jerman, termasuk kolaborasi seniman Indonesia-Jerman serta mahasiswa internasional Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Sementara delegasi nasional datang dari DKI Jakarta, Lampung, Bali, Sulawesi Selatan, Malang, Mojokerto, hingga berbagai sanggar seni di Surabaya.

Ia mengungkapkan antusiasme masyarakat sangat tinggi sejak hari pertama pelaksanaan festival. Ribuan pengunjung memadati rangkaian kegiatan mulai dari penampilan di Kota Lama Surabaya hingga berbagai agenda wisata budaya.

"Kemarin waktu di event Kota Lama itu cukup ramai sekali. Delegasi yang hadir di sini juga tampil di sana," ujarnya.

Menurut Ridzotullahmad, festival ini menjadi salah satu strategi Pemkot Surabaya dalam mempromosikan potensi pariwisata sekaligus memperluas jejaring kerja sama internasional melalui skema Sister City.

"Momentum seperti ini membuka peluang kerja sama budaya yang lebih luas sekaligus mengenalkan Surabaya kepada masyarakat internasional," katanya.

Salah satu peserta, Shakira Martandjelika, penari asal Bali yang kini menetap di Surabaya, mengaku bangga dapat membawakan Tari Legong Condong di hadapan masyarakat.

Ia menilai festival lintas budaya memiliki peran penting untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan budaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

"Perlu banget acara seperti ini, terutama buat Gen Z. Biar mereka mengenal budaya sendiri sekaligus menghargai budaya dari daerah dan negara lain. Harapan saya semakin banyak anak muda yang ikut melestarikan budaya," tuturnya.

Melalui Cross Culture Festival ke-17, Pemkot Surabaya berharap seni dan budaya tidak hanya menjadi identitas daerah, tetapi juga menjadi jembatan persahabatan antarbangsa sekaligus penggerak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Pahlawan. (dim/vga)

Editor : Vega Dwi Arista
#seni #penonton #balai pemuda #Negara #budaya