Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Psikolog Sebut Mayoritas Remaja Pernah Terlibat Perundungan, Dampaknya Sangat Berbahaya

Rahmat Sudrajat • Selasa, 7 Juli 2026 | 16:05 WIB
PERLU DILINDUNGI: Anak-anak dan remaja sangat rawan perundungan. (IST)
PERLU DILINDUNGI: Anak-anak dan remaja sangat rawan perundungan. (IST)

  

RADAR SURABAYA - Kasus perundungan atau bullying di kalangan pelajar kian marak dan sering dianggap lumrah. Padahal, riset menunjukkan sekitar 40 persen siswa pernah melihat atau bahkan terlibat langsung dalam perundungan.

Psikolog Klinis Margaretha mengatakan, perundungan adalah bentuk kekerasan serius yang berdampak buruk bagi fisik maupun mental pelaku dan korban. Ia berupa penggunaan kekerasan dari seseorang kepada yang lain secara berulang.

“Ada pelaku dan ada korban. Bentuknya bisa fisik, verbal, emosional, eksploitasi ekonomi, penelantaran, hingga lewat media sosial atau cyber bullying,” jelas Margaretha, Selasa (7/7).

Baca Juga: Alarm CCTV Bunyi, Pelaku Pencurian Gagal Bobol Warung di Pakis Tirtosari Surabaya

 Ia menambahkan, di dunia maya orang sering merasa bebas bersembunyi di balik identitas palsu untuk melakukan perundungan. Padahal, dampaknya sama buruknya dengan kekerasan langsung.

 Margaretha menjelaskan, perilaku perundungan sering kali terbentuk dari lingkungan keluarga dan pergaulan. Anak yang melihat atau mengalami kekerasan di rumah cenderung meniru pola serupa saat menghadapi masalah.

 “Anak yang di rumahnya biasa diselesaikan dengan pukul atau kekerasan akan berpikir bahwa cara itu benar. Selain itu, pelaku biasanya kurang cakap menyelesaikan masalah pribadi maupun sosial, sehingga kekerasan dijadikan jalan pintas yang tidak efektif,” paparnya.

 Sementara itu, kelompok yang paling rentan menjadi korban adalah mereka yang minim dukungan sosial, kesulitan menyelesaikan konflik, serta penyandang disabilitas atau kebutuhan khusus, termasuk siswa di sekolah inklusi.

Dampak perundungan tidak bisa dianggap remeh. Korban bisa mengalami rasa takut berlebih, menolak ke sekolah, gangguan tidur, penurunan prestasi, hingga kecemasan parah dan depresi. Dalam kasus terberat, hal ini bahkan bisa memicu keinginan mengakhiri hidup.

Baca Juga: Proyek JLLB Dikebut, Pemkot Surabaya Target Rampung Juli 2027

 “Tidak semua korban mengalami trauma yang sama. Namun, pelaporan dan dukungan yang tepat sangat menentukan pemulihan. Kita tidak boleh sekadar diam menjadi saksi, tapi harus berani berbicara dan melaporkan,” tegasnya.

 Margaretha mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berubah dari sekadar pengamat menjadi agen perubahan. “Jangan memaklumi perundungan. Katakan berhenti, berani bersuara, dan pastikan perlindungan bagi korban,” pungkasnya. (rmt)

Editor : Lambertus Hurek
#bullying remaja #bahaya bullying #dampak perundungan #bullying #Perundungan