Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kebut Normalisasi Sungai di Surabaya, 575 Titik Genangan Masih Jadi PR

Dimas Mahendra • Senin, 6 Juli 2026 | 17:14 WIB
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan petunjuk terkait proyek rumah pompa. (IST)
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan petunjuk terkait proyek rumah pompa. (IST)

 

RADAR SURABAYA - Pemkot Surabaya mempercepat penanganan banjir dan genangan di berbagai kawasan. Dari 1.015 titik genangan yang dipetakan sejak 2020, sebanyak 440 titik telah berhasil ditangani hingga 2025. 

Kini, masih tersisa 575 titik yang menjadi pekerjaan rumah (PR) dan akan diselesaikan secara bertahap. Mulai pembangunan drainase, normalisasi saluran, hingga kolaborasi dengan pemerintah pusat.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya Hidayat Syah mengatakan, tahun ini pemkot memprioritaskan penanganan sekitar 120 titik genangan baru yang tersebar di berbagai wilayah.

Namun, menurutnya, upaya tersebut tidak akan maksimal apabila pekerjaan pada saluran primer yang menjadi kewenangan pemerintah pusat belum turut diselesaikan.

Baca Juga: Bazar BB Laka Lantas, Satlantas Polrestabes Surabaya Sudah Kembalikan 37 Kendaraan

 "Sebenarnya kita tidak bisa berbicara Kota Surabaya saja yang bekerja. Di sisi lain juga ada kewajiban pemerintah pusat yang harus segera dilakukan," ujar Hidayat, Senin (6/7).

Menurut dia, sedimentasi di sejumlah sungai utama seperti Sungai Surabaya, Kalimas, hingga Kali Jagir kini semakin tinggi, sehingga perlu segera dilakukan normalisasi agar kapasitas aliran air kembali optimal.

"Contoh sederhananya penggalian atau normalisasi Sungai Surabaya, Kalimas, dan Jagir. Sedimentasinya sudah cukup tinggi," katanya.

Selain pengerukan sungai, Hidayat juga mendorong percepatan pembangunan pintu air di muara Kali Jagir. Menurutnya, keberadaan pintu air menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian banjir karena berfungsi memperlancar aliran air menuju hilir.

 "Percuma kalau kita membangun banyak saluran baru tetapi muaranya mengalami pendangkalan. Penambahan pintu air di muara Kali Jagir juga harus segera direalisasikan," tegasnya.

Pemkot Surabaya telah mengirimkan surat kepada pemerintah pusat agar normalisasi sungai dan pembangunan pintu air segera dilaksanakan. "Kami sudah bersurat dan berharap pekerjaan tersebut bisa segera direalisasikan," imbuhnya.

Baca Juga: Tanaman Herbal Bisa Jadi Pengusir Nyamuk Alami di Rumah

Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Surabaya Adi Gunita menjelaskan, penanganan genangan dilakukan berdasarkan pemetaan menyeluruh yang telah dimulai sejak tahun 2020.

Dari hasil pemetaan tersebut ditemukan sebanyak 1.015 titik genangan di Kota Surabaya. Hingga akhir 2025, sekitar 440 titik telah berhasil ditangani melalui pembangunan saluran, rumah pompa, maupun berbagai infrastruktur pengendali banjir lainnya.

"Memang kita sudah melakukan mitigasi sejak tahun 2020. Dari sekitar 1.015 titik genangan, hingga 2025 sudah terselesaikan hampir 440 titik," jelas Adi.

Pada tahun ini, kata Adi, Pemkot Surabaya kembali menargetkan penyelesaian sekitar 120 titik genangan. Bersamaan dengan itu, perencanaan penanganan untuk tahun 2027 juga mulai disusun agar penyelesaiannya berjalan berkesinambungan.

"Untuk tahun 2026 ini ada sekitar 120 titik yang akan kita tangani. Sementara perencanaan untuk 2027 juga sudah mulai kami siapkan sejak sekarang," ujarnya.

Selain membangun saluran baru, Adi menekankan pentingnya normalisasi saluran yang sudah ada. Menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak akan memberikan hasil maksimal apabila saluran tidak dirawat secara rutin.

"Normalisasi sangat penting. Percuma kalau kita membangun saluran baru tetapi tidak dirawat," katanya.

Adi menjelaskan, sekitar 340 saluran berada di bawah kewenangan Pemkot Surabaya. Sementara kurang lebih 30 saluran primer merupakan kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Brantas, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

 Karena itu, ia menilai penanganan banjir di Surabaya hanya bisa berhasil apabila seluruh pemangku kepentingan bekerja secara terpadu.

Baca Juga: Kamera Ponsel Kian Jadi Andalan Gen Z Mengabadikan Aktivitas Sehari-hari

 

"Kami tidak bisa berjalan sendiri. Penanganan banjir membutuhkan kolaborasi antara pemerintah kota dengan pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi," tegasnya.

Di sisi lain, Adi juga mengajak masyarakat turut menjaga fungsi drainase dengan tidak membuang sampah ke saluran air. Menurutnya, perilaku tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kinerja saluran maupun rumah pompa tetap optimal saat hujan deras mengguyur Kota Surabaya.

"Yang tidak kalah penting, masyarakat juga harus menjaga saluran dengan tidak membuang sampah sembarangan. Saluran yang bersih akan membuat sistem pengendalian banjir bekerja lebih maksimal," pungkasnya. (*/rek)

Editor : Lambertus Hurek
#normalisasi saluran #Penanganan Banjir #genangan surabaya #wali kota surabaya #rumah pompa