RADAR SURABAYA - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan signifikan di sejumlah wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut dinilai berkaitan erat dengan perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Pakar imunologi Dr Agung Dwi Wahyu Widodo mengatakan, perubahan pola cuaca menjadi salah satu faktor yang memperluas penyebaran nyamuk aedes aegypti sebagai pembawa virus dengue.
Baca Juga: 22 Kasus Demam Berdarah dan 1 Meninggal di Sidoarjo, Dinkes Minta Tetap Waspada
“Kebanyakan iklim dan cuaca ekstrem yang terjadi di ASEAN, terutama Indonesia, berdampak cukup kuat terhadap peningkatan kasus. Kenaikan suhu, curah hujan tinggi, serta musim hujan yang lebih panjang menyebabkan daerah jelajah nyamuk semakin luas. Usia nyamuk juga bertambah sehingga tidak mudah mati,” ujar Agung, Senin (29/6).
Menurutnya, kondisi lingkungan yang semakin mendukung perkembangbiakan nyamuk membuat upaya pengendalian DBD perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih inovatif. Salah satu teknologi yang dinilai menjanjikan adalah penggunaan nyamuk ber-Wolbachia.
Baca Juga: Cegah Demam Berdarah, Ini yang Dilakukan Pemkot Surabaya
Wolbachia merupakan bakteri alami yang dapat hidup bersimbiosis dengan serangga, termasuk nyamuk Aedes. Bakteri tersebut memiliki kemampuan menghambat perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk sehingga menurunkan risiko penularan kepada manusia.
“Wolbachia ini bersimbiosis dengan serangga Aedes. Ketika Aedes terinfeksi Wolbachia, sistem imunnya akan teraktivasi dengan baik sehingga tidak mudah terinfeksi virus dengue. Bahkan, probosis atau alat tusuk nyamuk yang digunakan untuk menembus kulit manusia juga menjadi lebih lemah,” jelasnya.
Selain menghambat penularan virus, Wolbachia juga memengaruhi proses reproduksi nyamuk. Nyamuk jantan yang membawa Wolbachia akan menghasilkan sperma yang tidak mampu membuahi telur nyamuk betina tanpa Wolbachia.
“Ketika nyamuk jantan yang terinfeksi kawin dengan betina tanpa Wolbachia, telur yang dihasilkan tidak dapat menetas,” imbuh Agung.
Baca Juga: Bahaya Demam Berdarah (DBD) pada Balita, Kenali Gejalanya
Efektivitas metode tersebut telah terlihat dalam penerapan di lapangan. Di Yogyakarta, pelepasan nyamuk ber-Wolbachia dilaporkan mampu menekan kasus DBD secara signifikan serta menurunkan angka rawat inap akibat penyakit tersebut. Para peneliti juga memastikan teknologi ini aman dan tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia.
Namun, Agung mengingatkan bahwa perkembangan DBD saat ini tidak hanya terlihat dari jumlah kasus yang meningkat. Gejala klinis penyakit tersebut juga semakin beragam dan kompleks.
Menurutnya, virus dengue tidak hanya menyerang pembuluh darah dan menyebabkan penurunan trombosit, tetapi juga dapat memicu peningkatan enzim hati secara drastis.
“Bahkan terdapat kasus tertentu ketika virus dengue langsung menyerang sistem saraf anak-anak hingga menyebabkan ensefalitis atau infeksi otak,” jelasnya.
Karena itu, penanganan DBD tidak dapat hanya mengandalkan satu metode. Selain pengendalian vektor melalui inovasi Wolbachia, pengembangan vaksin juga harus terus dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan.
“Vaksin harus mampu menurunkan angka rawat inap tanpa menimbulkan reaksi penguatan infeksi atau Antibody Dependent Enhancement (ADE). Optimalisasi pengendalian vektor dengan mengombinasikan teknologi Wolbachia dan metode tradisional tetap harus berjalan,” kata Agung.
Ia menambahkan, edukasi masyarakat juga perlu diperluas. Pencegahan tidak cukup hanya melalui gerakan 3M Plus, tetapi juga harus mencakup kesadaran terhadap deteksi dini serta penerapan tata laksana yang terintegrasi mulai dari puskesmas hingga fasilitas kesehatan rujukan.
Di tengah kondisi cuaca yang semakin tidak menentu, Agung menilai kewaspadaan masyarakat, dukungan inovasi medis, serta keterlibatan aktif warga menjadi faktor penting untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti.
“Pengendalian DBD membutuhkan kerja bersama. Inovasi teknologi harus berjalan seiring dengan upaya pencegahan di tingkat masyarakat,” pungkasnya. (rmt/vga)
Editor : Vega Dwi Arista