RADAR SURABAYA — Transisi energi bersih dan ekonomi sirkular di Indonesia mendapat dorongan baru dengan beroperasinya basis produksi Grup Tianneng di Surabaya. Lewat upacara peresmian dan konferensi mitra bertajuk “Menciptakan Masa Depan Energi, Menggerakkan Indonesia Hijau — Bersama Mitra Menciptakan Nilai Baru Energi Hijau”, perusahaan menegaskan komitmennya mengintegrasikan ekosistem industri hijau global dengan kebutuhan pasar lokal.
Komitmen ini diwujudkan lewat delapan sesi penandatanganan kerja sama strategis bersama PT Tri Mega Baterindo, Goda, U-winfly, GreenTech, AIMA, Chao Neng, Jin Long Energi, dan Goda Sumatera Jaya. Yang menjadi sorotan dari peresmian kali ini adalah komitmen serapan tenaga kerja lokal yang disampaikan Direktur Utama Tianneng Indonesia, Mao Jinmin.
Ia menjelaskan, pemilihan Jawa Timur sebagai lokasi basis produksi bukan keputusan instan, melainkan hasil riset dan survei jangka panjang terhadap sumber daya serta kondisi pasar yang dinilai sangat sesuai dengan strategi jangka panjang perusahaan.
“Saat ini, kami memiliki sekitar 50 hingga 60 karyawan mitra lokal. Di masa depan, dengan membawa seluruh rantai industri dan basis produksi ke sini, kami sebagai perusahaan yang berbasis lokal pasti akan membutuhkan skala tenaga kerja sekitar 700 hingga 800 orang,” tegas Mao Jinmin. Ia menambahkan, kehadiran Tianneng turut didukung lebih dari 9.000 hak paten yang akan menjadi modal inovasi untuk menggerakkan pertumbuhan industri manufaktur lokal.
Visi keberlanjutan perusahaan juga ditegaskan lewat rencana pembangunan ekosistem industri baterai timbal-asam bersiklus hidup penuh di Indonesia — mengintegrasikan proses manufaktur dengan sistem daur ulang material inti dalam skema sirkular tertutup. Ketua Dewan Direksi Tianneng Holding Group, Zhang Tianren, dalam sambutan video menyatakan bahwa transisi energi global merupakan kebutuhan, bukan sekadar pilihan strategis.
"Dengan bekal 40 tahun pengalaman, kami ingin memastikan setiap solusi penyimpanan energi yang kami bawa benar-benar relevan dengan kebutuhan pasar setempat,” ujarnya, merujuk pada portofolio teknologi timbal-asam, litium, hidrogen, natrium, hingga solid-state yang dimiliki perusahaan.
Langkah ini sejalan dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) dan mencerminkan pergeseran paradigma globalisasi perusahaan: dari sekadar mengekspor produk menjadi menanamkan kemampuan dan nilai tambah secara mendalam di pasar lokal. Basis produksi di Surabaya — yang strategis sebagai bagian dari ekonomi terbesar ASEAN — ditargetkan menjadi tolok ukur manufaktur hijau Tianneng di luar negeri.
Dukungan kebijakan turut disampaikan Kepala Dinas Penanaman Modal Provinsi Jawa Timur, Dyah. “Operasional ini selaras dengan transformasi energi nasional. Ekosistem transportasi listrik dan ekonomi hijau akan tumbuh dengan layanan investasi pemerintah yang transparan, efisien, serta insentif kebijakan,” ujarnya. Sementara itu, Wakil Konsul Jenderal Konsulat Jenderal Republik RakyatTiongkok Surabaya, Liu Yi, menyebut sinergi hijau ini sebagai arah penting kerja sama praktis yang saling menguntungkan bagi kedua negara.
Menjawab kebutuhan pasar dengan populasi 280 juta jiwa dan lebih dari 130 juta kendaraan ringan yang tengah memasuki fase konversi listrik struktural, Tianneng merancang produknya agar tahan terhadap iklim tropis yang panas, lembap, berdebu, dan bersalinitas tinggi. Seri Tianneng Durable diklaim mampu mendongkrak jarak tempuh 10–15% dan umur siklus 100–200% pada suhu 45°C sementara lini litium dilindungi sertifikasi kedap IP67, dan sel baterai solid-state telah mencapai kepadatan energi 350 Wh/kg yang difokuskan pada segmen motor listrik premium.(*)
Editor : Guntur Irianto