RADAR SURABAYA - Hujan kembali mengguyur Surabaya pada Rabu dini hari (24/6/2026), melanjutkan cuaca ekstrem yang telah melanda Kota Pahlawan selama dua hari berturut-turut sejak 22 hingga 23 Juni. Intensitas hujan pada pagi buta kali ini cukup tinggi di sejumlah kawasan, terutama wilayah Surabaya utara.
Sejumlah warga yang bersiap menggelar nonton bareng pertandingan Piala Dunia 2026 antara Inggris melawan Ghana pada pukul 02.30 WIB dibuat kelabakan. Banyak di antara mereka tidak membawa jas hujan karena tidak memperkirakan hujan akan kembali turun sedini itu.
Baca Juga: Gubernur Khofifah: Pendapatan APBD Jatim 2025 Tembus Rp29,88 Triliun, Lampaui Target 104,65 Persen
Di kawasan wisata religi Ampel, hujan turun cukup deras. Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Surabaya utara, termasuk wilayah Kenjeran yang diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
“Hujan tiga hari ini terasa lebih parah ketimbang musim hujan. Padahal sekarang sudah masuk kemarau,” ujar Wahyu, warga Semampir yang menonton pertandingan di kawasan Ampel.
Cuaca ekstrem yang terjadi dalam tiga hari terakhir ini dinilai tidak lazim. Pasalnya, secara kalender klimatologis, wilayah Jawa Timur saat ini sudah mulai memasuki musim kemarau. Namun, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat justru masih terus terjadi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda sebelumnya telah memperingatkan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Timur pada 22–24 Juni 2026.
Baca Juga: Perempuan Dianiaya usai Pulang dari Tempat Hiburan Malam di Jalan Pasar Kembang Surabaya
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berpotensi disertai petir dan angin kencang dipicu oleh gangguan konvergensi lokal, suhu muka laut yang mendukung penguapan tinggi, serta kondisi atmosfer yang labil dan lembap.
Menurut dia, kondisi tersebut juga berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, banjir bandang, longsor, hingga pohon tumbang.
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Gresik, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Pasuruan, Jombang, serta Kota Kediri, Kota Malang, Kota Batu, Kota Mojokerto, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, dan Kota Surabaya.
Taufiq menambahkan, intensitas cuaca ekstrem tersebut diprakirakan mulai melemah dalam tiga hari ke depan. Meski demikian, masyarakat dan instansi terkait diminta tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah dengan topografi curam dan kawasan pegunungan yang rawan bencana.
BMKG juga mengimbau warga untuk terus memantau perkembangan cuaca dan mengantisipasi dampak yang mungkin timbul selama periode cuaca ekstrem ini.
Editor : Lambertus Hurek