RADAR SURABAYA — Setelah dua hari berturut-turut diguyur hujan ekstrem hingga memicu genangan di berbagai kawasan, cuaca di Surabaya pada Rabu (24/6/2026) diperkirakan mulai lebih stabil. Meski begitu, hujan ringan hingga sedang masih berpotensi turun terutama pada dini hari hingga pagi.
Berdasarkan prakiraan cuaca, kondisi langit Surabaya pada awal hari didominasi cerah hingga cerah berawan. Pada pukul 01.00–02.00 WIB, cuaca diprediksi cenderung cerah dengan suhu berada di kisaran 26 derajat celsius.
Baca Juga: Jalanan di Surabaya Era 1920-an Lebih Ramai dan Tertib ketimbang Batavia yang Masih Semrawut
Memasuki pukul 03.00 WIB, hujan mulai berpotensi turun dalam bentuk hujan singkat. Intensitas hujan meningkat pada pukul 04.00 hingga 07.00 WIB dengan kategori hujan ringan. Suhu udara pada periode tersebut berkisar 25–26 derajat celsius, dengan kelembapan udara sangat tinggi mencapai 96–97 persen.
Menjelang pagi hingga siang, potensi hujan mulai menurun. Pada pukul 08.00–09.00 WIB masih terdapat peluang hujan ringan sesaat. Namun setelah pukul 10.00 WIB, cuaca diperkirakan membaik dengan kondisi cerah berawan hingga berawan.
Suhu udara pada siang hari diprediksi cukup panas, mencapai 31 derajat celsius. Namun suhu yang dirasakan bisa menembus 37 derajat celsius akibat tingkat kelembapan yang masih tinggi.
Memasuki sore hingga malam hari, langit Surabaya diperkirakan didominasi kondisi berawan tebal. Cuaca relatif stabil tanpa potensi hujan signifikan. Suhu udara perlahan turun ke kisaran 26–30 derajat celsius.
Sebelumnya, hujan ekstrem yang mengguyur Surabaya selama dua hari terakhir menyebabkan genangan di sejumlah titik. Beberapa kawasan yang sempat terdampak antara lain ruas jalan protokol, permukiman padat, hingga kawasan langganan genangan.
Baca Juga: Serah Terima Aset Rampasan KPK Bernilai Rp 1,6 M dan 13 Sertifikat Tanah Wakaf di Surabaya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, meski saat ini secara kalender sudah memasuki musim kemarau, potensi hujan lebat masih bisa terjadi akibat dinamika atmosfer yang tidak biasa.
Menurut analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), anomali suhu muka laut di wilayah Selat Madura menjadi salah satu faktor utama pemicu hujan ekstrem belakangan ini. Suhu permukaan laut yang lebih hangat dari kondisi normal meningkatkan penguapan secara signifikan.
Kondisi tersebut memicu kenaikan kelembapan udara di atmosfer. Kelembapan yang tinggi kemudian menjadi bahan baku utama pembentukan awan-awan hujan, termasuk awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan lebat dalam durasi singkat.
Masyarakat diimbau tetap waspada, terutama pada jam-jam rawan hujan pada dini hari hingga pagi. Pengendara juga diminta berhati-hati karena genangan masih berpotensi muncul di sejumlah titik apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi. (*)
Editor : Lambertus Hurek