Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kadar Fosfat Kali Tebu Surabaya Lampaui Ambang Batas Usai 16 Ton Sampah Plastik Diangkat

Rahmat Sudrajat • Senin, 22 Juni 2026 | 18:17 WIB
Beban sampah plastik di Kali Tebu sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.(Rahmat Sudrajat)
Beban sampah plastik di Kali Tebu sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.(Rahmat Sudrajat)

RADAR SURABAYA – Kadar fosfat di Kali Tebu, Surabaya, dilaporkan melebihi ambang batas baku mutu air setelah sebanyak 16 ton sampah didominasi plastik berhasil diangkat dari aliran sungai tersebut.

Temuan ini menambah daftar panjang indikasi pencemaran berat di sungai perkotaan yang bermuara ke Selat Madura.

Operasi pembersihan berlangsung selama dua hari, Sabtu (20/6) hingga Minggu (21/6), dengan melibatkan tim Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) Ecoton, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, serta petugas kebersihan Kecamatan Kenjeran.

Sebagian besar sampah yang diangkut terdiri atas kemasan makanan dan minuman berbahan plastik, seperti sachet, botol air minum dalam kemasan, serta styrofoam.

Jenis sampah tersebut disebut terus mendominasi aliran sungai akibat konsumsi harian masyarakat.

Baca Juga: 7 Format Konten TikTok yang Paling Cepat Bikin Makanan Viral dan Laris

Manager Data dan Informasi Program MOZAIK Ecoton, Alaika Rahmatullah, menyatakan bahwa beban sampah plastik di Kali Tebu sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.

“Selama dua hari kegiatan pembersihan, kami mengangkat sekitar 16 ton sampah. Sebagian besar berupa kemasan plastik sekali pakai seperti sachet, botol minuman, dan styrofoam. Ini menjadi sumber utama timbulan sampah di sungai,” ujarnya, Senin (22/6).

Ia menegaskan bahwa penanganan tidak cukup hanya dengan pembersihan fisik, melainkan harus diikuti perubahan pola konsumsi masyarakat.

“Pengurangan plastik sekali pakai harus menjadi prioritas. Jika tidak, pencemaran akan terus berulang meskipun sudah dibersihkan,” katanya.

Lebih lanjut, Alaika mengungkapkan bahwa pencemaran di Kali Tebu tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi juga telah masuk ke fase mikro.

“Plastik yang terurai menjadi mikroplastik dapat menyebar melalui air maupun udara, sehingga dampaknya jauh lebih luas terhadap lingkungan dan kesehatan,” jelasnya.

Temuan ini sejalan dengan studi yang dipublikasikan dalam jurnal One Earth pada Mei 2026, yang menyebutkan bahwa

kemasan makanan dan minuman merupakan jenis sampah plastik paling dominan di wilayah pesisir dunia, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Kadin Surabaya Sebut Gangguan Listrik Ancam Produktivitas UMKM dan Stabilitas Ekonomi Daerah

Sementara itu, penelitian mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya menemukan bahwa mikroplastik telah tersebar di udara sekitar kawasan sungai.

Penelitian yang dilakukan melalui enam titik pengamatan tersebut menemukan total 103 partikel mikroplastik.

Jumlah tertinggi ditemukan di Kelurahan Simokerto dengan 37 partikel, sedangkan terendah berada di lokasi Trash Boom dengan lima partikel.

Jenis yang paling banyak ditemukan adalah serat (fiber) yang diduga berasal dari pakaian sintetis dan limbah rumah tangga.

“Kami menemukan mikroplastik di seluruh titik pengamatan. Ini menunjukkan bahwa partikel plastik sudah menyebar di lingkungan sekitar dan berpotensi terhirup masyarakat setiap hari,” ujar peneliti, Davin Jauhar B.

Selain itu, hasil pengujian kualitas air menunjukkan kadar fosfat di Kali Tebu telah melampaui baku mutu air kelas I, II, dan III sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.

Kadar fosfat tertinggi tercatat sebesar 8,1 mg/L, sedangkan terendah mencapai 4,2 mg/L.

Sebagai perbandingan, parameter lain seperti klorin bebas masih tercatat 0,00 mg/L di seluruh titik pengamatan dan berada di bawah ambang batas.(rmt) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#kali tebu #surabaya #mikroplastik #sampah plastik #pencemaran