RADAR SURABAYA - Warga Kota Surabaya perlu bersiap menghadapi cuaca yang cukup dinamis pada Sabtu, 20 Juni 2026. Berdasarkan prakiraan cuaca, wilayah Surabaya diperkirakan diawali dengan hujan ringan pada dini hari hingga pagi, sebelum berangsur cerah dan didominasi sinar matahari sepanjang siang hingga sore.
Pada pukul 04.00 hingga 08.00 WIB, cuaca di Surabaya diprediksi masih diwarnai hujan ringan sesekali dengan kondisi berawan. Suhu udara berkisar 26–28 derajat Celsius dengan kelembapan tinggi, mencapai 85–95 persen. Angin bertiup lemah dengan kecepatan 0–3 kilometer per jam.
Baca Juga: Selesaikan S-3, Dokter Gigi Unair Kembangkan Biomaterial Lokal untuk Selamatkan Gigi Goyang
Memasuki pukul 09.00 WIB, cuaca mulai cerah. Matahari diperkirakan bersinar penuh hingga sore hari. Suhu udara perlahan naik dari 29 derajat Celsius pada pagi menjelang siang, hingga mencapai puncaknya di kisaran 32 derajat Celsius pada pukul 13.00–14.00 WIB.
Meski suhu aktual siang hari berada di angka 30–32 derajat Celsius, suhu yang dirasakan tubuh atau feels like diperkirakan bisa menyentuh 37 derajat Celsius akibat paparan sinar matahari langsung dan kelembapan udara yang masih cukup tinggi.
Kondisi cerah diperkirakan berlanjut hingga malam hari. Mulai pukul 18.00 WIB, suhu udara turun ke kisaran 28 derajat Celsius dan terus menurun hingga sekitar 27 derajat Celsius menjelang tengah malam. Langit diprediksi cerah dengan kelembapan udara berada di kisaran 81–90 persen.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, suhu malam hari di Surabaya dalam beberapa waktu terakhir terasa lebih dingin dibanding biasanya. Fenomena ini umum terjadi pada musim kemarau dan dikenal masyarakat sebagai bediding.
Baca Juga: Dari Peyek Rumahan hingga Tepung Ayam Goreng, Usaha Jufriyah Terus Berkembang Bersama BRI
Bediding muncul ketika lapisan awan di atmosfer cenderung tipis atau minim, sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara saat malam hingga dini hari terasa lebih sejuk, bahkan cenderung dingin.
Selain itu, pengaruh monsun Australia juga turut memperkuat kondisi tersebut. Angin yang bergerak dari Benua Australia menuju Indonesia pada periode musim kemarau umumnya membawa massa udara yang lebih kering dan dingin.
Kombinasi langit cerah, awan tipis, serta monsun Australia inilah yang membuat udara malam hingga pagi hari di Surabaya terasa lebih dingin.
BMKG mengimbau masyarakat tetap menjaga kondisi tubuh, terutama saat beraktivitas pada malam dan dini hari. Perbedaan suhu yang cukup kontras antara siang yang panas dan malam yang sejuk dapat memengaruhi daya tahan tubuh. (*)
Editor : Lambertus Hurek