RADAR SURABAYA - Prestasi akademik sekaligus inovasi kesehatan berhasil ditorehkan Dr. Dwi Wahyu Indrawati, S.H., M.Kes., Sp.Perio.
Dokter gigi spesialis periodonsia tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan Doktor (S-3) di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga hanya dalam waktu 2,5 tahun atau lima semester dengan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.
Baca Juga: Seminar Ekonomi, Unair Soroti SDM dan Digitalisasi untuk Transformasi Koperasi Ritel
Tak hanya mencatat capaian akademik, Dwi juga menghasilkan penelitian yang berpotensi menjadi solusi baru dalam dunia kesehatan gigi. Melalui disertasinya berjudul Mekanisme Kombinasi Bovine Membran Perikardium dan Hyaluronic Acid terhadap Ekspresi TNF-α, IL-10, VEGF, TGF-β, OCN dan Woven Bone pada Proses Bone Healing, ia mengembangkan biomaterial untuk membantu mempertahankan gigi yang mengalami kegoyangan akibat kerusakan jaringan penyangga.
“Bahan ini bekerja sebagai membran bioaktif yang membantu tulang gigi yang mengalami penyusutan dapat tumbuh kembali. Penyebab gigi goyang bisa beragam, salah satunya akibat penyakit sistemik seperti diabetes dan hipertensi yang dalam jangka panjang dapat memengaruhi kondisi rongga mulut,” jelas Dwi, Kamis (18/6).
Menurut dia, melalui terapi berbasis biomaterial tersebut, gigi yang mengalami kegoyangan tidak selalu harus dicabut. Dengan penanganan yang tepat, gigi masih dapat dipertahankan sehingga fungsi kunyah maupun kualitas hidup pasien tetap terjaga.
Dwi menjelaskan, saat ini bahan serupa sebenarnya sudah tersedia di pasaran. Namun, sebagian besar masih merupakan produk impor dengan harga relatif mahal. Kondisi tersebut mendorongnya mengembangkan biomaterial lokal yang lebih terjangkau dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara lebih luas.
“Ini menjadi kebaruan dari penelitian saya. Kami ingin menghadirkan biomaterial buatan Indonesia yang bisa menjadi solusi nyata bagi masyarakat, bukan hanya tersedia di rumah sakit besar,” tegasnya.
Baca Juga: Wamenkes Datangi FK Unair Surabaya, Fokus Berantas TBC dan Perkuat Riset Kesehatan Nasional
Sebagai dokter gigi spesialis periodonsia, Dwi mengaku penelitian tersebut berangkat dari banyaknya kasus pasien dengan kondisi gigi goyang berat yang akhirnya harus menjalani pencabutan karena keterbatasan pilihan terapi.
Padahal, kehilangan gigi dapat berdampak pada berbagai aspek, mulai dari fungsi mengunyah, penampilan, hingga kesehatan tubuh secara umum.
“Kalau gigi hilang, proses mengunyah menjadi tidak sempurna. Makanan tidak terhaluskan dengan baik sehingga dapat memengaruhi kerja sistem pencernaan. Karena itu, mempertahankan gigi selama masih memungkinkan menjadi hal yang penting,” paparnya.
Selama menempuh pendidikan doktoral, Dwi juga mencatat sejumlah pencapaian. Ia menghasilkan enam publikasi ilmiah pada jurnal internasional terindeks Scopus kategori Q1, Q2, dan Q3. Selain itu, ia mendapatkan pendanaan penelitian dan hilirisasi yang nilainya mendekati Rp 1 miliar, meraih penghargaan Pemenang Kompetisi Inovasi Sidoarjo (KISI) 2025, serta menjalin kerja sama dengan industri nasional untuk mengembangkan hasil risetnya.
Diseminasi dan penyematan gelar Doktor S3 FKG Unair tersebut digelar di Ruang Sidang Dekan FKG Unair, Kamis (18/6). Kegiatan itu dihadiri jajaran dekanat FKG Unair, rektorat Unair, serta perwakilan Rektorat Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Dekan FKG Unair Prof. Dr. Muhammad Luthfi, drg., M.Kes., mengapresiasi capaian tersebut. Ia menegaskan bahwa hasil penelitian mahasiswa doktoral harus mampu melampaui publikasi ilmiah dan diwujudkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Ini merupakan lulusan doktor ke-37 dari program studi kami. Penelitian yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai ilmiah, tetapi juga sudah memasuki tahap hilirisasi,” ujarnya.
Selain pengembangan biomaterial untuk mempertahankan gigi, Prof. Luthfi menyebut terdapat inovasi lain berupa pengembangan obat kumur berbahan herbal yang dikombinasikan dengan asam hialuronat untuk membantu mempercepat pemulihan gusi yang mengalami peradangan.
Ia berharap berbagai hasil riset FKG Unair dapat diterapkan secara luas, termasuk di fasilitas kesehatan tingkat dasar seperti puskesmas. Dengan begitu, inovasi kesehatan gigi tidak hanya berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. (rmt/vga)
Editor : Vega Dwi Arista