RADAR SURABAYA - Polisi menyelidiki dugaan kelalain dalam pengerjaan proyek gorong-gorong di Jalan Margorejo Indah, Surabaya. Proyek ini menyebabkan pasangan suami istri (pasutri) tercebur gorong-gorong hingga sang istri LE, 69, warga Jalan Kawatan, meninggal dunia.
"Masih diselidiki. Kita lihat fakta-fakta di lapangan," kata Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto saat dikonfirmasi terkait dugaan kelalaian dalam pengerjaan proyek gorong-gorong di Jalan Margorejo Indah, Senin (15/6).
Sementara dari pengamatan Radar Surabaya Senin siang (15/6), usai insiden pasutri tercebur gorong-gorong di Jalan Margorejo Indah, di bibir galian atau jalan lokasi proyek dipasang sekitar 10 barier. Selain itu 50 meter sebelum lokasi proyek juga terdapat baner informasi terkait adanya proyek.
Baca Juga: DPRD Surabaya Desak Kontraktor Proyek Maut Margorejo di-Blacklist Seumur Hidup
Sedangkan, untuk lubang gorong-gorong yang terbuka atau lokasi korban tercebur ditutup menggunakan ram besi. Di lokasi tampak tidak ada aktivitas pekerja.
Sepanjang Jalan Margorejo Indah mulai dari depan Plaza Marina hingga ke barat telah berlangsung proyek galian gorong-gorong. Terlihat lubang gorong-gorong yang terbuka juga ditutup ram besi. Sementara di pinggirnya diberi barier dan garis penanda adanya proyek.
Baca Juga: DPRD Surabaya: Penataan Pasar Tradisional Tidak Bisa Dilakukan Tanpa Kesadaran Masyarakat
Kronologi Pasutri Terperosok ke Proyek Gorong-Gorong di Margorejo Surabaya
Diberitakan sebelumnya, pasangan suami istri (pasutri) lansia tercebur ke gorong-gorong proyek saluran air di Jalan Margorejo Indah depan Plasa Marina, Wonocolo Surabaya, Jumat (12/6) pukul 19.00.
Akibat peristiwa tersebut, LE, 69, warga Jalan Kawatan, Bubutan Surabaya meninggal dunia. Sementara suaminya EP, 65, mengalami luka ringan.
Salah satu petugas parkir minimarket sekitar lokasi Nanang Budi S mengatakan pengendara motor berboncengan semula melaju dari arah timur ke barat di Jalan Margorejo Indah.
Baca Juga: Sopir Lihat Google Map, Mobil Terperosok Selokan di FR Ahmad Yani Surabaya
Sesampainya di lokasi pengendara motor tercebur ke dalam gorong-gorong proyek saluran air. Beberapa warga dan pengguna jalan sempat berusaha menolong korban. Namun tidak berhasil karena medan yang sulit.
Kondisi korban yang laki-laki berdiri di dalam gorong-gorong yang ada airnya. Sementara yang perempuan mengalami luka dan tak sadarkan diri. "Kondisinya gelap. Tadi ada yang berusaha menolong pakai tampar tapi nggak kuat," ucapnya, Sabtu (13/6).
Nanang mengaku sempat melihat suami masih bertahan dalam kubangan air gorong-gorong. Si suami tampak seperti berusaha memastikan kondisi sang istri baik-baik saja. Namun setelah petugas yang melakukan evakuasi datang dan korban berhasil diangkat si suami tampak histeris karena istrinya sudah kaku. Setelah dilakukan pengecekan oleh tim medis korban dinyatakan meninggal dunia.
Baca Juga: Tidak Punya Pekerjaan Tetap tapi Nekat Menikah, Susah Penuhi Kebutuhan Berujung ke PN Surabaya
Kedua korban lantas dibawa petugas medis menggunakan ambulans ke Rumah Sakit Bhayangkara. "Luka mungkin kena cor-coran (box culvert)," sebutnya.
Sementara suami korban Edy Parlin menceritakan saat itu berboncengan motor baru saja kontrol rutin dari RSI Jemursari. Dia mengendarai motor Honda Supra X melaju pelan sambil ngobrol dengan istrinya perjalanan pulang ke rumah.
"Di tengah (perjalanan) kami cerita-cerita, pelan-pelan. Itu di tengah-tengah itu, saya enggak tahu kok gelap. Enggak pas belokan, kan terus masih, lurus itu. itu tengah-tengah itu. Nah, itu saja ada itu langsung sudah saya sadar. Loh jatuh saya terus saya cari istri saya. Ma, ma, enggak ada. Ternyata saya kan kendaraan itu ada di atas saya," ungkapnya.
Baca Juga: Belgia vs Mesir: Belgia Lebih Diunggulkan, Tapi Salah Siap Gagalkan Misi Tiga Poin De Rode Duivels
Ia mengaku berada di dalam gorong-gorong sekitar 15 menit sampai 20 menit. Kemudian petugas evakuasi datang dan menolongnya bersama istri. Kemudian dievakuasi ke RS Bhayangkara Surabaya.
"Iya terbentur (korban). Kan ada box culvertnya itu ya. Iya (beton). Ini keteledoran kayaknya keteledoran dari bentuk galiannya. Malam gelap terus dan enggak ada petugas. Di situ enggak ada petugas sama sekali yang menggali itu," tuturnya.
Ia melanjutkan berdasarkan keterangan warga di lokasi sudah ada lima kali kecelakaan akibat proyek tersebut. (rus/gun)
Editor : Guntur Irianto