Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

ITS Kembangkan Sistem WebGIS dan Machine Learning, Prediksi Lima Kecamatan Surabaya Berisiko Tinggi DBD pada 2026

Rahmat Sudrajat • Rabu, 10 Juni 2026 | 18:27 WIB
Mahasiswa ITS mengembangkan sistem berbasis WebGIS dan machine learning untuk memetakan risiko DBD di Surabaya secara lebih akurat. (Rahmat Sudrajat)
Mahasiswa ITS mengembangkan sistem berbasis WebGIS dan machine learning untuk memetakan risiko DBD di Surabaya secara lebih akurat. (Rahmat Sudrajat)

RADAR SURABAYA – Sebanyak lima kecamatan di Kota Surabaya diprediksi menjadi wilayah dengan risiko tinggi penyebaran demam berdarah dengue (DBD) pada 2026. 

Prediksi tersebut dihasilkan melalui sistem Aedes Aegypti Environmental Risk System (AERIS), inovasi berbasis Web Geographic Information System (WebGIS) dan

 machine learning yang dikembangkan mahasiswa Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Berdasarkan hasil analisis AERIS, Kecamatan Tambaksari, Rungkut, Tandes, Sawahan, dan Semampir masuk dalam kategori kawasan dengan potensi tinggi terjadinya kasus DBD. 

Sistem ini dirancang untuk membantu pemerintah dan pemangku kepentingan mengambil langkah pencegahan lebih dini sebelum terjadi lonjakan kasus.

Baca Juga: 300 Ribu Calon Murid Dapat PIN SPMB 2026, Dindik Jatim Lanjutkan Pendaftaran Jalur Domisili

Ketua Tim Pengembang AERIS, Rifqi Pangestu Wiguna, menjelaskan bahwa inovasi tersebut bertujuan mengubah pendekatan penanganan DBD dari yang bersifat responsif menjadi preventif.

“Melalui inovasi ini, kami berupaya menggeser pendekatan dari responsif menjadi preventif,” ujar Rifqi, Rabu (10/6).

Analisis Data DBD Surabaya Selama Lima Tahun

Untuk menghasilkan prediksi yang akurat, tim AERIS mengolah data kasus DBD Kota Surabaya selama periode 2019 hingga 2024 yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

Data tersebut kemudian dipadukan dengan sejumlah variabel lingkungan yang berpengaruh terhadap penyebaran penyakit.

Beberapa variabel yang digunakan antara lain curah hujan, kondisi topografi, kepadatan penduduk, sebaran titik genangan air, serta enam faktor lingkungan lainnya.

Menurut Rifqi, semakin banyak variabel yang relevan dimasukkan ke dalam model, semakin tinggi tingkat akurasi prediksi yang dihasilkan.

Seluruh data kemudian diproses menggunakan empat metode machine learning, yakni Random Forest, XGBoost, Support Vector Regression, dan Regresi Binomial Negatif.

“Kombinasi variabel ini memungkinkan sistem menyajikan informasi risiko sebagai pendukung pengambilan keputusan berbasis data,” katanya.

Baca Juga: 13.266 Jemaah Haji Sudah Tiba, PPIH Surabaya Catat 81 Mutasi Selama Pemulangan

Kepadatan Penduduk dan Genangan Air Jadi Faktor Utama

Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko penyebaran DBD di Surabaya cenderung terkonsentrasi pada wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi.

Selain itu, keberadaan genangan air menjadi salah satu faktor paling dominan yang memengaruhi potensi munculnya kasus DBD.

Karena itu, pengelolaan genangan air serta pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dinilai tetap menjadi langkah penting dalam upaya menekan angka penyebaran penyakit.

“Oleh sebab itu, pengelolaan genangan dan pemberantasan sarang nyamuk tetap menjadi langkah yang relevan,” ungkap Rifqi.

Akurasi Sistem Capai 90 Persen

Keandalan sistem AERIS juga telah diuji menggunakan data kasus DBD aktual pada Maret 2025 yang tidak dimasukkan dalam proses pelatihan model.

 Hasilnya, sistem mampu mengidentifikasi dengan tepat 9 dari 10 kecamatan yang memiliki jumlah kasus DBD tertinggi.

Satu kecamatan yang tidak terdeteksi, yakni Bubutan, diduga dipengaruhi faktor lokal yang bersifat sementara, seperti munculnya klaster kasus secara mendadak atau kejadian luar biasa yang sulit diprediksi oleh model.

Peta Risiko DBD Dapat Diakses Publik

Selain menyajikan prediksi risiko, AERIS juga dilengkapi fitur peta interaktif berbasis WebGIS yang dapat diakses masyarakat melalui laman aeris.geowebgis.id.

Melalui platform tersebut, pengguna dapat melihat persebaran kasus DBD, data curah hujan, lokasi fasilitas kesehatan, hingga peta prediksi risiko DBD di setiap kecamatan di Surabaya.

“Kami berharap AERIS dapat menjadi salah satu alat pendukung pengambilan keputusan berbasis data untuk mendukung upaya pencegahan DBD di Surabaya,” pungkas Rifqi.(rmt) 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Aedes Aegypti Environmental Risk System (AERIS) #pemberantasan sarang nyamuk #dbd #demam berdarah dengue (DBD)