RADAR SURABAYA – Di tengah perlambatan pasar properti yang masih terasa, para pengembang terus berinovasi untuk menjaga daya saing dan mendorong penjualan.
Salah satu strategi yang kini banyak dilakukan adalah penguatan infrastruktur sebagai penopang nilai kawasan.
Hal ini juga dilakukan oleh Royal Residence Surabaya yang berlokasi di Surabaya Barat. Pengembang perumahan kelas menengah
atas tersebut tengah menggenjot pembangunan infrastruktur jalan untuk membuka akses baru dari arah selatan.
Kawasan ini diproyeksikan berkembang menjadi pusat bisnis dan gaya hidup (lifestyle) baru di Surabaya Barat dalam beberapa tahun ke depan.
JLDB Jadi Akses Strategis Baru Surabaya Barat
Direktur Utama PT Bhakti Tamara selaku pengembang Royal Residence, Lodewyk Wattimena, menjelaskan bahwa
pembangunan jalan kembar selebar 55 meter tersebut merupakan bagian dari proyek Jalan Lingkar Dalam Barat (JLDB) Surabaya.
Jalur ini akan menghubungkan kawasan selatan Sumur Welut hingga perempatan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Wiyung, yang menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi dan hunian yang pesat.
“Masih ada sekitar 300 meter di bagian selatan yang sedang kami kerjakan. Saat ini masuk tahap pematangan lahan, dan selanjutnya akan dilakukan pengaspalan,” ujar Lodewyk, Rabu (3/6).
Menurutnya, JLDB akan menjadi akses utama baru yang mempercepat mobilitas masyarakat dari wilayah selatan menuju kawasan Surabaya Barat.
Dorong Pertumbuhan Pusat Bisnis dan Lifestyle
Lodewyk optimistis, selesainya pembangunan JLDB akan mendorong kawasan Royal Residence berkembang menjadi pusat bisnis baru.
Selain ruko yang sudah terjual dan beroperasi, pengembang juga membuka peluang pengembangan lanjutan seperti kawasan kuliner, gedung perkantoran (low rise building), apartemen, hingga fasilitas komersial lainnya.
Baca Juga: Sebanyak 30 Guru Naik Jabatan, 65 Kepala Sekolah Dilantik Gubernur Jatim Khofifah
“Kami melihat potensi besar untuk pengembangan kawasan ini ke depan. Bahkan sudah ada minat untuk pembangunan SPBU di area tersebut,” jelasnya.
Sebagai langkah awal penguatan kawasan komersial, Royal Residence juga berencana menggelar Food Festival yang akan melibatkan sekitar 20–30 brand kuliner. Lokasi kegiatan masih difinalisasi, antara di Klaster Organica atau di kawasan JLDB.
Pasar Properti Melambat, Harga Tetap Disesuaikan
Di sisi lain, Lodewyk mengakui bahwa pasar properti masih mengalami perlambatan akibat kondisi ekonomi yang belum stabil, termasuk dampak kenaikan harga bahan bakar dan fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Meski demikian, perusahaan tetap melakukan penyesuaian harga jual unit per 1 Juni 2026. Kenaikan tersebut berkisar 3–7 persen untuk menyesuaikan biaya konstruksi.
“Untuk unit tersisa, kami naikkan sekitar 3–7 persen. Sedangkan untuk bangunan baru langsung menggunakan harga terbaru,” jelasnya.
Targetkan Penjualan Lewat Produk Ready Stock dan Program PPN-DTP
Marketing Manager Royal Residence, Dina Ariyanti, menambahkan bahwa pihaknya tetap optimistis menghadapi pasar properti yang menantang.
Strategi yang dijalankan adalah memperkuat penjualan melalui produk ready stock dan program insentif pemerintah PPN-DTP.
Menurutnya, skema ini menjadi daya tarik bagi konsumen yang ingin segera memiliki hunian siap huni.
“Kami memiliki banyak pilihan rumah ready stock di beberapa klaster dengan harga mulai Rp1 miliar hingga Rp8 miliar. Selain itu, tersedia juga unit ruko di jalan utama dengan kisaran harga sekitar Rp8 miliar,” ujarnya.
Dengan percepatan pembangunan JLDB, Royal Residence Surabaya tidak hanya memperkuat akses kawasan, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai salah satu calon pusat pertumbuhan bisnis dan lifestyle baru di Surabaya Barat.(fix)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan