RADAR SURABAYA - Dampak pemanasan global ternyata tidak hanya dirasakan melalui meningkatnya suhu udara atau cuaca ekstrem.
Perubahan iklim juga memicu pergeseran habitat hewan pengerat (rodent) yang kini semakin sering mendekati kawasan permukiman penduduk. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran Hantavirus, penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia.
Baca Juga: Hantavirus, Rumah Jangan Sampai Jadi Sarang Tikus
Pakar virologi, Shelly Wulandari, menjelaskan bahwa memahami perilaku hewan pembawa virus atau reservoir menjadi langkah penting dalam mencegah terjadinya zoonotic spillover, yakni penularan penyakit dari hewan ke manusia.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian Hantavirus adalah sifat asimtomatik pada hewan pembawanya. Tikus yang terinfeksi dapat membawa virus dalam jumlah tinggi tanpa menunjukkan gejala sakit apa pun.
"Hewan pengerat yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala klinis atau tampak sakit secara fisik. Karena tidak ada tanda-tanda khusus, identifikasi keberadaan virus pada populasi hewan hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium," ujar Shelly, Senin (1/6).
Kondisi tersebut membuat pengawasan atau surveilans terhadap populasi hewan liar menjadi sangat penting sekaligus menantang. Keberadaan virus tidak dapat dideteksi hanya melalui pengamatan visual sehingga diperlukan pemeriksaan laboratorium secara berkala.
Baca Juga: Polemik Patung Tikus Berdasi di Bangkalan, Dilarang Tampil di Karnaval karena Dinilai Provokatif
Shelly menjelaskan, pergeseran habitat tikus dipicu oleh perubahan lingkungan akibat pemanasan global. Kerusakan habitat alami dan meningkatnya suhu bumi mendorong hewan pengerat mencari tempat yang lebih nyaman serta sumber makanan yang lebih mudah diperoleh, termasuk di kawasan permukiman.
"Pemanasan global memicu tikus keluar dari habitat alaminya dan mendekati permukiman penduduk. Risiko penularan semakin meningkat saat musim hujan atau banjir karena kontak antara manusia dan tikus menjadi lebih sering terjadi," jelas dosen Teknologi Veteriner Universitas Airlangga tersebut.
Penularan Hantavirus dapat terjadi melalui paparan urin, feses, maupun air liur tikus yang terinfeksi. Bahkan, manusia dapat tertular tanpa kontak langsung dengan hewan pembawa, misalnya saat menghirup debu atau partikel udara yang telah terkontaminasi kotoran tikus.
Dari perspektif kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan, upaya pencegahan harus difokuskan pada pengendalian populasi tikus serta penerapan biosekuriti lingkungan yang baik. Kebersihan lingkungan menjadi faktor penting untuk memutus rantai penularan penyakit.
Selain itu, Shelly mengingatkan adanya potensi perubahan genetik pada virus yang perlu terus diwaspadai.
"Meskipun pada umumnya Hantavirus menular dari hewan ke manusia, beberapa penelitian menunjukkan adanya kemungkinan mutasi pada strain tertentu yang berpotensi memungkinkan penularan antarmanusia," katanya.
Karena itu, peran tenaga ahli veteriner dinilai sangat penting dalam melakukan surveilans terhadap populasi hewan liar. Langkah tersebut diperlukan untuk mendeteksi potensi perubahan virus sejak dini dan mencegah berkembangnya wabah yang lebih luas.
"Pengawasan berkelanjutan menjadi kunci untuk mengidentifikasi ancaman sejak awal sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum terjadi penyebaran yang lebih besar," pungkasnya. (rmt/vga)
Editor : Vega Dwi Arista