RADRA SURABAYA - Kemajuan teknologi digital membuka peluang besar bagi perempuan untuk berkarya, menyuarakan pendapat, hingga membangun jejaring di ruang maya. Namun, di balik kemudahan tersebut, perempuan juga menghadapi ancaman serius berupa kekerasan dan pelecehan digital yang kian meningkat.
Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT), Prof Dra Myrtati Dyah Artaria MA PhD, mengatakan ruang digital ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi menghadirkan banyak kesempatan, namun di sisi lain juga menyimpan berbagai potensi bahaya.
Baca Juga: Melestarikan Bahasa Jawa dengan Kemis Mlipis, Pemkot Surabaya Dapat Penghargaan dari Kemendikdasmen
“Di satu sisi, ruang digital membuka peluang baru bagi perempuan untuk bekerja, membangun jejaring, menyuarakan opini, hingga melakukan advokasi sosial. Namun, di sisi lain ruang digital juga menciptakan bentuk kekerasan dan pelecehan yang sering kali lebih sulit dikendalikan dibanding kekerasan di ruang fisik,” ujar Prof Myrta, Senin (25/5).
Menurutnya, tingginya ancaman terhadap perempuan di media digital tidak muncul begitu saja. Fenomena tersebut merupakan perpanjangan dari budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat dan ikut terbawa ke ruang maya.
Baca Juga: Sempat Viral, Pencuri Sandaran Kursi Besi Milik Pemkot di Gubeng Surabaya Akhirnya Ditangkap
Akibatnya, perempuan lebih rentan menjadi sasaran komentar negatif, body shaming, hingga serangan personal di media sosial.
“Perempuan lebih sering menerima komentar negatif, body shaming, dan serangan personal di media digital karena internet masih membawa ketimpangan gender dan budaya patriarki yang sudah lama ada di masyarakat. Teknologinya memang baru, tetapi cara orang memperlakukan perempuan masih sama seperti di dunia nyata,” jelasnya.
Baca Juga: Sempat Viral, Pencuri Sandaran Kursi Besi Milik Pemkot di Gubeng Surabaya Akhirnya Ditangkap
Pakar Bio-antropologi dan Antropologi Forensik itu menambahkan, identitas perempuan di ruang publik kerap dikaitkan dengan aspek pribadi seperti tubuh, emosi, moralitas, dan relasi sosial. Karena itu, ketika perempuan menyampaikan pendapat, respons yang muncul sering kali justru menyerang identitas pribadinya, bukan substansi gagasannya.
Lebih jauh, Prof Myrta menegaskan bahwa ruang digital sejatinya tidak terpisah dari kehidupan sosial. Nilai, norma, dan budaya yang berkembang di masyarakat tetap tercermin di internet.
“Ruang digital sebenarnya tidak terpisah dari kehidupan sosial. Nilai, norma, dan budaya di masyarakat ikut terbawa ke internet. Karena itu, cara perempuan diperlakukan di dunia digital sering mencerminkan bagaimana perempuan diperlakukan di dunia nyata,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, serangan terhadap perempuan di ruang digital biasanya terjadi secara bertahap. Mulai dari komentar merendahkan, ancaman keamanan, penyebaran data pribadi, hingga kekerasan seksual berbasis digital.
Dampaknya pun tidak hanya dirasakan sesaat, tetapi bisa memengaruhi kesehatan mental, identitas diri, hubungan sosial, hingga perkembangan akademik dan karier korban.
“Pengalaman negatif di media digital dapat memberi dampak yang luas terhadap perempuan, bukan hanya pada perasaan sesaat, tetapi juga pada kesehatan mental, identitas diri, relasi sosial, bahkan perkembangan akademik dan karier,” paparnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Prof Myrta menilai peningkatan literasi digital menjadi hal penting. Menurutnya, masih banyak pengguna media sosial yang memahami kebebasan berekspresi tanpa mempertimbangkan etika dan dampak dari komunikasi yang dilakukan.
Karena itu, menciptakan ruang digital yang sehat dan aman membutuhkan perubahan pola pikir, baik di tingkat individu, masyarakat, maupun kebijakan.
Di akhir pernyataannya, Prof Myrta mengajak perempuan untuk tetap percaya diri dan tidak takut menyuarakan gagasan di ruang digital.
“Jangan biarkan rasa takut membuat diri mengecil. Dunia digital membutuhkan suara, karya, perspektif, dan keberadaan perempuan. Namun pada saat yang sama, penting juga untuk memahami bahwa menjaga diri di ruang digital bukan tanda lemah, melainkan bentuk kesadaran dan perlindungan diri,” pungkasnya. (rmt/vga)
Editor : Vega Dwi Arista