Dahnil memberikan arahan penting kepada seluruh petugas yang bertugas. Ia meminta agar segala bentuk acara seremonial atau upacara penyambutan dikurangi seminimal mungkin.
Baca Juga: Haji 2026: Bandara Jeddah Padat, Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Langsung Diberangkatkan ke Makkah
Menurutnya, fokus utama penyelenggaraan tahun ini adalah menjamin ketertiban jemaah serta memaksimalkan kualitas pelayanan, baik selama persiapan di dalam negeri maupun saat nanti berada di Tanah Suci.
“Tahun ini kita fokus pada memastikan ketertiban jemaah, kemudian ketertiban pelayanan di dalam negeri maupun pelayanan di luar negeri. Alhamdulillah, Jawa Timur kan tahun ini jemaah hajinya paling besar. Embarkasi ini saja melayani 43.000 lebih jemaah haji. Jadi selain dari Jawa Timur, juga melayani jemaah dari Nusa Tenggara Timur dan Bali. Tentu saja, beban pelayanan terbesar ada di Jawa Timur ini,” ujar Dahnil.
Ia mengapresiasi bahwa di tahun pertama di bawah naungan Kementerian Haji dan Umrah, berbagai peningkatan kualitas layanan sudah sangat terasa dan nyata hasilnya.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama sinergis antarinstansi, mulai dari layanan keimigrasian dengan jalur khusus Makkah Route, pihak kesehatan, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK), hingga dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Alhamdulillah banyak peningkatan selama era Kementerian Haji yang pertama ini, peningkatan itu bisa dirasakan dan terlihat nyata. Artinya ini kerja sama tim yang alhamdulillah menghasilkan banyak kemajuan signifikan dalam konteks pelayanan,” jelasnya.
Selain soal pelayanan umum, Wamenhaj juga menegaskan bahwa pihaknya menerapkan standar yang sangat ketat terkait penilaian kemampuan atau istitaah kesehatan jemaah.
Baca Juga: Kasus Pembunuhan Satpam di Sukomanunggal Jaya Surabaya, Tersangka Sempat Buang Pisau ke Semak-Semak
Hal ini dilakukan demi menjaga keselamatan dan kesehatan jemaah selama menjalani ibadah yang cukup berat.
Hingga saat ini, tercatat sudah ada lebih dari delapan calon jemaah yang terpaksa dibatalkan keberangkatannya karena dinilai tidak memenuhi syarat kesehatan atau tidak laik terbang.
“Memang tahun ini kita ketat sekali terkait istitaah kesehatan. Sampai dengan hari ini ada delapan lebih yang tidak diberangkatkan karena kesehatan. Ada yang dinilai tidak layak terbang, misalnya penderita demensia. Ada dua kasus demensia, ada juga ibu hamil yang keberangkatannya dibatalkan. Nanti mereka bisa dipertimbangkan kembali untuk berangkat pada tahun depan,” ungkapnya.
Ketatnya pengawasan kesehatan ini sejalan dengan target utama pemerintah untuk menekan angka kematian seminimal mungkin, bahkan menuju angka nol atau zero kematian.
Dahnil memastikan upaya menekankan angka kematian mulai membuahkan hasil nyata. Hingga tanggal yang sama dibandingkan dengan tahun lalu, angka kematian jemaah tahun ini turun drastis.
“Untuk kesehatan kita akan sangat ketat karena kita memang targetnya mengurangi, bahkan kalau bisa mencapai zero kematian. Tapi sampai dengan hari ini, yang meninggal sudah sekitar 24 orang. Namun angka ini relatif turun signifikan dibanding tahun lalu,’ tegasnya.
Baca Juga: Iseng Bermain Borgol, Malah Kunci Hilang, Pemuda Asal Surabaya Ngadu ke Damkar
“Di tahun lalu, di tanggal yang sama jumlahnya bisa mencapai 50-an orang. Jadi target kami tahun ini angka kematian harus menurun signifikan, semuanya sehat saat berangkat dan bisa kembali pulang dalam keadaan sehat juga,” imbuhnya.
Dahnil juga turut mengecek langsung kondisi kebersihan dan kelayakan di dapur asrama haji. Dapur ini bertugas menyajikan dan memasak makanan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ribuan jemaah yang sedang menunggu jadwal keberangkatan ke tanah suci. (rmt)