RADAR SURABAYA - Kasus keracunan massal yang menimpa sekitar 200 siswa di Surabaya membuka fakta mengejutkan terkait dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Bubutan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya bersama Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap adanya pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) serta kondisi dapur yang tidak memenuhi syarat higienitas.
Temuan ini memicu sorotan publik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjamin keamanan pangan bagi anak sekolah.
Kepala Dinkes Surabaya, dr Billy Daniel Messakh, menyebut dapur SPPG Tembok Dukuh tidak layak digunakan. Salah satu temuan adalah proses pencairan daging beku di area yang tidak higienis.
“Daging itu dalam keadaan beku, di-defrost di area yang tidak bersih. Waktu pencairan sekitar dua jam, baru daging layak dipotong,” ujar Billy dalam rapat dengar pendapat di DPRD Surabaya, Rabu (13/5).
Billy juga menyoroti banyaknya lalat di area dapur karena alat penangkap serangga tidak sesuai standar.
Baca Juga: Eri Cahyadi Pastikan Investigasi Dugaan Keracunan MBG Ratusan Siswa Surabaya
Selain itu, pintu dapur tidak memiliki penghalang plastik sehingga memudahkan serangga keluar masuk. Hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) menunjukkan nilai 81,85 persen atau Tidak Memenuhi Syarat (TMS).
Lebih parah lagi, SPPG Tembok Dukuh belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang wajib sebagai syarat operasional.
Sementara itu, perwakilan BGN Jatim sekaligus Kepala KPPG Surabaya, Kusmayanti, menegaskan adanya pelanggaran SOP dalam pengolahan MBG.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Perkuat Pengendalian Inflasi dan Kedaulatan Pangan melalui EPIK
“SPPG yang bersangkutan terjadi kesalahan penerapan. Di antaranya, pengawas gizi tidak ada di tempat saat kualitas bahan baku datang,” jelas Kusmayanti.
Ia menambahkan, sampel MBG yang diteliti di laboratorium sempat rusak karena dikeluarkan dari lemari pendingin tanpa penanganan khusus.
Akibatnya, hanya daging yang bisa dijadikan sampel penelitian. BGN Jatim pun menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut.
“Dengan segala kerendahan hati kami memohon maaf. Ini menjadi catatan bagi kami untuk lebih waspada dan berhati-hati dalam penerapan SOP,” tutup Kusmayanti.
Baca Juga: Mahasiswa ITS Luncurkan Sistem Pemetaan Area Rawan Tindak Asusila
Sementara itu, Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, drg. Tyas Pranadani, menyebut ratusan siswa dari TK, SD, hingga SMP mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, dan pusing. Sekitar 100 siswa harus dirawat di Rumah Sakit Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Surabaya.
“Ada beberapa sekolah dari satu SPPG itu memang semua dikirimi makanan ini mengeluh. Jadi total sekitar 12 sekolah yang terdampak,” kata Tyas.(dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari