RADAR SURABAYA - Maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi belakangan ini menjadi sorotan utama sekaligus kekhawatiran tersendiri bagi para mahasiswa saat beraktivitas di kampus.
Mengingat luasnya wilayah kampus dan dinamika aktivitas yang terus berjalan, sering kali terdapat celah keamanan di sudut-sudut lokasi yang luput dari pengawasan.
Baca Juga: Kemdiktisaintek Gandeng ITS Susun Peta Jalan Riset Nasional 2026-2045
Mahasiswa dari Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang dan meluncurkan sebuah sistem inovatif berbasis teknologi WebGIS bernama ITSafe.
Sistem ini berfungsi sebagai sarana pelaporan sekaligus pemetaan wilayah yang berpotensi rawan terjadi tindak asusila maupun kejahatan lainnya di lingkungan kampus.
Baca Juga: ITS Pasang Target Jadi Global Impact University 2030, Inovasi Mahasiswa Jadi Senjata Utama
Mengusung konsep pelaporan berbasis partisipasi masyarakat atau crowdsourcing serta pemetaan keruangan, laman ITSafe dirancang khusus untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi yang dinilai rawan mulai dari tindakan ringan seperti siulan nakal atau panggilan tidak senonoh (catcalling) hingga berbagai bentuk tindak kriminal lainnya.
Ketua Satgas PPK ITS, Prida Novarita Trisanti menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif yang dihadirkan oleh para mahasiswa tersebut.
Baca Juga: Bukan Hanya Akademik, Penghafal Kitab Suci Kini Bisa Masuk ITS Lewat Jalur SMITS FLAT
Menurutnya, sistem ini akan sangat memudahkan pihak satgas dalam menindaklanjuti setiap laporan yang masuk dengan lebih terarah dan tepat sasaran.
Selain itu, data yang terkumpul juga akan menjadi masukan berharga bagi unit kerja lain di lingkungan ITS, seperti Biro Manajemen Aset (BMA), untuk meningkatkan kualitas fasilitas keamanan di kampus.
Baca Juga: Rebut 2.110 Kursi! SNBT ITS 2026 Jadi Jalur Paling Besar, Daftar Ditutup 7 April
“Melalui ITSafe ini, kami dari pihak kampus akan sangat terbantu dalam memahami titik-titik area yang dirasa masih kurang fasilitasnya, baik itu minimnya pemasangan CCTV, pencahayaan yang kurang memadai, hingga wilayah yang jarang didatangi oleh petugas keamanan saat berpatroli,” tutur Prida, Rabu (13/5).
Sementara itu, Ketua tim pengembang, Josephine Novellia, menjelaskan bahwa laman ITSafe tidak hanya sekadar menyediakan formulir pelaporan.
Di dalamnya juga disajikan berbagai fitur lengkap berupa peta persebaran area rawan, pemetaan kelayakan fasilitas keamanan, hingga hasil analisis wilayah berdasarkan data laporan yang masuk.
Khusus pada fitur formulir pengaduan, pihaknya menjamin sepenuhnya keamanan dan kerahasiaan identitas pelapor. Pelapor tidak diwajibkan mengisi data diri pribadi yang sensitif.
Alur pelaporannya cukup sederhana, yaitu pelapor hanya diminta mengisi alamat surel atau e-mail untuk keperluan umpan balik otomatis, peran pelapor dalam kejadian, serta jenis kelamin pada halaman awal.
Langkah selanjutnya, pelapor diminta mencantumkan titik lokasi kejadian, gambaran kondisi lokasi yang dianggap kurang aman, hingga menguraikan kronologi atau pengalaman yang dirasakan di lokasi tersebut.
“Terakhir, pelapor dapat mengisi kronologi kejadian atau pengalaman yang dirasakan di area yang dilaporkan. Kami pastikan seluruh data pribadi pelapor aman dan tidak akan disebarluaskan,” imbuh Novellia.
Setiap laporan yang masuk kemudian akan diverifikasi terlebih dahulu oleh tim pengelola sebelum akhirnya ditampilkan pada fitur utama berupa ‘Peta Persebaran’ di laman ITSafe.
Dengan demikian, setiap pengunjung atau pengguna laman dapat melihat dan mengetahui wilayah mana saja yang sudah dilaporkan memiliki potensi kerawanan.
“Dengan adanya fitur peta digital ini, memungkinkan pengguna untuk melihat area berpotensi rawan, informasi mengenai kondisi fisik lokasi tersebut, serta seberapa tinggi tingkat konsentrasi kerawanan pada suatu wilayah tertentu,” terang Novellia.
Data yang terkumpul kemudian diolah menjadi bentuk tampilan visual berupa simbol-simbol khusus agar mudah dipahami oleh pengguna.
Salah satu bentuk penyajian data yang digunakan adalah visualisasi peta kepadatan atau heatmap.
Tampilan ini dibuat berdasarkan skor tingkat kerawanan yang diberikan oleh para pelapor, sehingga dapat menggambarkan seberapa tinggi intensitas kerawanan di satu lokasi dibandingkan dengan lokasi lainnya.
“Visualisasi heatmap digunakan untuk menunjukkan area yang memiliki intensitas kerawanan lebih tinggi dibandingkan dengan area lainnya. Hal ini didasarkan pada persepsi dan penilaian yang disampaikan oleh para pelapor melalui sistem ini,” papar Duta.
Hasil pengolahan data yang dinilai memerlukan penanganan serius atau pendampingan khusus bagi korban pelaku laporan, selanjutnya akan diserahkan secara langsung kepada pihak Satgas PPK ITS untuk segera ditindaklanjuti. (rmt/vga)