Peringatan 8 Tahun Tragedi Bom Tiga Gereja, Uskup Surabaya Pimpin Misa dan Aksi Solidaritas Lintas Iman 

Lambertus Hurek • Dipublikasikan Rabu, 13 Mei 2026 | 12:44 WIB
Misa peringatan peristiwa bom di Gereja Katolik Ngagel Surabaya. (IST)
Misa peringatan peristiwa bom di Gereja Katolik Ngagel Surabaya. (IST)
 

 

RADAR SURABAYA – Umat Kristiani di Surabaya memperingati tragedi bom bunuh diri yang mengguncang tiga gereja pada 13 Mei 2018 melalui rangkaian ibadat dan kegiatan lintas iman, Rabu (13/5/2026).

Peringatan diawali dengan Misa Kudus di Gereja Santa Maria Tak Bercela yang dipimpin Uskup Surabaya, Agustinus Tri Budi Utomo. Misa yang dimulai pukul 05.30 WIB itu dihadiri umat dari berbagai paroki dan berlangsung khidmat.

Baca Juga: Terjadi Lagi, Pemuda Asal Sukodono Ditemukan Tewas di Rumah Kontrakan Dukuh Menanggal Surabaya

Gereja yang terletak di Jalan Ngagel Madya tersebut merupakan salah satu lokasi serangan bom. Dua gereja lain yang juga menjadi sasaran adalah Gereja Kristen Indonesia Diponegoro di Jalan Diponegoro dan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya Arjuno di Jalan Arjuno.

Dalam homilinya, Uskup Agustinus mengajak umat untuk terus merawat iman, persaudaraan, dan semangat damai. Ia menegaskan bahwa peristiwa kelam tersebut harus menjadi pengingat untuk memperkuat kasih di tengah keberagaman.

“Kasih harus lebih besar daripada kebencian. Kita dipanggil untuk tetap bersatu dan menjadi saksi perdamaian,” ujarnya.

Selain misa, peringatan juga diisi dengan kegiatan lintas agama sebagai bentuk solidaritas dan komitmen menjaga kerukunan. Pada sore harinya, kegiatan bertajuk “Solidaritas Surabaya Inklusif” digelar di Gereja Kristen Indonesia Diponegoro pukul 17.00 WIB.

Baca Juga: Waduh! 11 Ribu Penerima Bansos Dicoret karena Judi Online

Acara tersebut menghadirkan berbagai kegiatan reflektif seperti doa bersama, pembacaan dan musikalisasi puisi, refleksi lintas iman, serta “moment of silence” untuk mengenang para korban. Panitia juga menyediakan lapak baca sebagai ruang literasi yang menguatkan pesan damai dan toleransi.

Sejumlah umat yang hadir mengaku peringatan ini selalu menghadirkan suasana haru. Nama-nama korban terus dikenang sebagai bagian dari sejarah kelam sekaligus pengingat akan pentingnya persatuan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan tragedi bom tiga gereja di Surabaya tidak hanya menjadi momen doa, tetapi juga ruang mempererat solidaritas lintas iman. Melalui kebersamaan tersebut, masyarakat Surabaya menegaskan komitmen untuk menjaga perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan. (*)

 

Editor : Lambertus Hurek
GKI Diponegoro GPPS Arjuno Gereja Katolik Ngagel Tragedi Bom bom gereja surabaya