RADAR SURABAYA - Kesepian atau loneliness kini menjadi fenomena yang semakin sering dialami kaum muda, termasuk Gen Z. Gaya hidup yang makin individualistis, rutinitas yang monoton, serta kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di depan gawai membuat lingkaran pergaulan menjadi sempit.
Kondisi ini secara perlahan mengikis kualitas hubungan sosial antarmanusia. Psikolog dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Diana Rahmasari mengingatkan, perasaan kesepian yang tidak disadari maupun dibiarkan berlarut-larut dapat memengaruhi cara berpikir seseorang dalam mengambil keputusan hingga cara pandangnya terhadap kehidupan.
Baca Juga: Festival Rujak Uleg 2026 Kian Meriah, Disulap Jadi Pesta Budaya Rasa Stadion
Menurut dia, seseorang yang merasa kesepian cenderung menganggap dirinya tidak memiliki peran penting dalam lingkungan sekitar. Hal inilah yang kemudian memicu sikap menarik diri dari pergaulan.
Jika kondisi ini tidak segera diatasi, risiko berkembang menjadi gangguan jiwa yang lebih serius seperti depresi akan semakin besar hingga bisa menyebabkan untuk mengakhiri diri dengan cara tragis seperti bunuh diri.
“Kita ini makhluk sosial yang pada dasarnya tetap membutuhkan kehadiran orang lain. Tanpa adanya hubungan yang bermakna dengan sesama, potensi untuk merasakan kesepian itu akan selalu ada,” ujarnya, Jumat (8/5).
Diana menyebut sekitar 62 persen masyarakat Indonesia pernah merasakan kesepian dalam hidupnya. Angka ini menjadi sinyal peringatan yang cukup serius karena kondisi tersebut dapat berkembang menjadi berbagai gangguan kesehatan mental seperti kecemasan berlebih, stres, hingga penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.
Secara gejala, seseorang yang mengalami kesepian biasanya mulai merasakan perasaan tidak berharga, bersikap pesimis, hingga cenderung berpikir negatif terhadap dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar.
Dia menjelaskan, kesepian tidak semata-mata disebabkan oleh faktor dari luar diri seseorang. Namun, sering kali terbentuk dari kebiasaan individu itu sendiri. Ketergantungan berlebihan pada gawai, rasa malas untuk bergaul, serta keengganan membangun hubungan yang sehat menjadi pemicu utama kondisi ini.
“Sering kali justru kitalah yang menciptakan rasa kesepian itu sendiri. Hal ini terjadi karena kita memilih untuk menarik diri dan merasa sudah cukup puas hanya dengan berinteraksi di dalam dunia maya melalui gawai kita,” ungkap Dekan Fakultas Psikologi Unesa ini.
Meski demikian, Diana optimistis bahwa Indonesia memiliki kekuatan tersendiri untuk melawan fenomena ini. Ia menilai bahwa modal sosial yang dimiliki bangsa ini masih sangat kuat. Budaya gotong-royong, rasa empati yang tinggi, serta kebiasaan berkumpul dan berinteraksi dalam lingkungan warga seperti kegiatan RT atau pertemuan lingkungan menjadi kekuatan besar yang dapat menjaga keterhubungan sosial antarwarga.
Ia juga menegaskan bahwa kendali penuh atas penggunaan gawai dan teknologi sepenuhnya berada di tangan individu masing-masing. Teknologi seharusnya diposisikan sebagai alat bantu kehidupan, bukan menjadi pengendali kehidupan seseorang.
“Kita adalah rajanya diri kita sendiri, termasuk dalam hal mengatur dan mengontrol penggunaan gawai. Jangan sampai terbalik, kita yang justru dikendalikan oleh teknologi,” tegasnya.
Sebagai langkah untuk mencegah dan mengatasi rasa kesepian, Diana mendorong masyarakat untuk mulai membangun hubungan sosial yang berkualitas, meskipun dalam lingkup yang kecil. Menurutnya, memiliki satu atau dua orang teman dekat yang dapat diajak berbagi cerita dan perasaan saja sudah cukup untuk menjaga kesehatan mental seseorang tetap terjaga.
Selain itu, terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial juga dapat membantu seseorang menemukan makna hidup dan kebahagiaan yang sejati.
“Ketika mulai merasa kesepian, jangan hanya diam dan memendam perasaan itu. Segera cari kegiatan positif, temui orang lain, dan bangunlah hubungan yang hangat. Karena pada akhirnya, kitalah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kondisi diri kita sendiri,” jelasnya.
Baca Juga: Bursa Transfer: Bayern Munich Gerak Cepat! Newcastle Mulai Negosiasi Transfer Anthony Gordon
Diana menambahkan, fenomena kesepian kian menjadi perhatian serius dalam kajian kesehatan mental masyarakat modern. Perubahan gaya hidup yang serba cepat serta dominasi penggunaan gawai telah mengubah pola hubungan sosial menjadi semakin dangkal dan kurang mendalam.
Ia juga menekankan bahwa kesepian tidak selalu berarti seseorang hidup sendirian. Banyak orang yang tinggal bersama keluarga atau kerabat, tapi tetap merasa hampa dan sepi karena tidak memiliki ikatan emosional yang mendalam dan bermakna.
Interaksi yang terjadi hanya sebatas formalitas, misalnya sekadar saling menyapa tanpa ada keterlibatan perasaan yang tulus. Kondisi seperti ini sering kali membuat seseorang merasa tidak disayang, tidak dibutuhkan, dan kehilangan tempat untuk meluapkan perasaannya.
Di sisi lain, kelompok lansia menjadi salah satu golongan yang paling rentan mengalami kesepian. Keterbatasan mereka dalam mengakses teknologi serta berkurangnya intensitas kunjungan atau interaksi dengan anggota keluarga membuat mereka berada dalam situasi yang semakin terisolasi. (*)
Editor : Lambertus Hurek