Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jemaah Asal Jombang yang Ngamuk di Asrama Haji Surabaya Dikhawatirkan Membahayakan, Berangkat Tunggu Keputusan

Rahmat Sudrajat • Jumat, 8 Mei 2026 | 08:45 WIB
Ketua Tim Kesehatan Embarkasi Haji Surabaya, dr Gesta Robi Farmawan. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)
Ketua Tim Kesehatan Embarkasi Haji Surabaya, dr Gesta Robi Farmawan. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)
RADAR SURABAYA - Seorang jemaah haji asal Jombang yang tergabung dalam Kloter 62 sempat mengamuk dan berusaha kabur dari Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada Kamis (7/5) malam, saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan dan rekomendasi dari tim medis yang menangani untuk menentukan laik terbang ke Tanah Suci.
Ketua Tim Kesehatan Embarkasi Haji Surabaya, dr Gesta Robi Farmawan, mengakui bahwa insiden yang terjadi dinilai cukup berisiko. 
Ia khawatir kondisi kesehatan maupun psikis jemaah tersebut dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain, bahkan jika ia tetap diberangkatkan dan berada di dalam kendaraan maupun pesawat.
Baca Juga: Persebaya Bertekad Pertahankan Rekor Clean Sheet Saat Hadapi Persis Solo
"Ya bahaya kalau berangkat, naik bus aja bisa membahayakan sopir," ujarnya, Jumat (8/5). 
Meski demikian dr Gesta mengaku bahwa penilaian tersebut belum bisa dipastikan saat ini. Segala keputusan akan didasarkan pada hasil diagnosa medis secara menyeluruh.
“Kita belum bisa menyimpulkan apakah ini membahayakan atau tidak. Yang jelas, keputusan laik atau tidaknya berangkat itu sepenuhnya kita serahkan kepada hasil pemeriksaan di RS Menur. Nanti setelah diketahui diagnosanya barulah kita tentukan langkah selanjutnya,” jelasnya. 
Baca Juga: Crystal Palace vs Rayo Vallecano di Final Liga Conference 2026, The Eagles Ukir Sejarah Eropa
Ia menambahkan, untuk kasus-kasus yang bersifat khusus seperti ini, pihaknya merujuk penanganannya ke rumah sakit rujukan, yaitu Rumah Sakit Menur. 
Tim kesehatan embarkasi akan terus berkoordinasi dengan dokter yang menangani untuk mendapatkan gambaran kondisi yang sebenarnya.
"Kalau saya tanya dokter di kloter tidak ada tanda-tanda panas saat kejadian maupun riwayat penyakit sebelum berangkat ke embarkasi," tutur dr. Gesta. 
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya, Jumat 8 Mei 2026: Potensi Hujan Ringan Sore hingga Malam
Terkait dugaan bahwa kondisi jemaah mengalami penurunan fungsi daya pikir atau demensia, dr Gesta menegaskan hal itu belum bisa dipastikan hanya berdasarkan kejadian sesaat. 
Ada banyak aspek yang harus diperiksa secara mendalam, mulai dari kondisi fisik hingga latar belakang kesehatan sebelumnya.
“Belum bisa disimpulkan seperti itu ya. Karena untuk menentukan jenis penyakitnya harus dilihat dari berbagai faktor. Bisa dari kondisi fisiknya, bisa juga dari faktor psikologisnya. Semuanya harus diperiksa secara bertahap dan teliti,” tegasnya.
Baca Juga: Gandeng BCA, Pakuwon Group Kembali Gelar Pameran Kejar Penjualan 2026 
Atas kejadian tersebut dr Gesta mengimbau kepada seluruh jemaah haji agar senantiasa menjaga kondisi tubuh dan kestabilan pikiran. 
Mengingat jemaah yang berangkat pada gelombang kedua ini langsung menuju Mekkah dan menjalankan ibadah Umrah Wajib, tingkat kesulitan dan intensitas kegiatannya jauh lebih tinggi dibandingkan saat berada di Madinah. 
“Imbauan kami tetap sama, jaga kesehatan, jangan sampai kelelahan, dan jaga kondisi fisik serta mental. Apalagi gelombang kedua ini langsung ke Mekkah, aktivitasnya jauh lebih padat dan menuntut tenaga yang lebih besar. Jadi kesiapan kondisi sangat diperlukan,” ujarnya.
Baca Juga: Jemaah Haji Asal Jombang Mengamuk dan Hendak Kabur dari Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Ini Penyebabnya
Mengenai standar penilaian laik terbang, dr. Gesta menyebutkan bahwa dasar utamanya adalah kondisi kesehatan umum. Selain keputusan medis dari kejadian tersebut juga kesepakatan dari keluarga yang menghendaki atau tidak jemaah berangkat. 
Sebelumnya, Ketua Kloter 62, Hasanuddin, menjelaskan bahwa gejala ketidaknyamanan jemaah tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak baru saja tiba di asrama sekitar pukul 14.40 WIB. Ia menolak bergabung dengan teman sekamarnya dan terus meminta untuk dipulangkan.
Salah satu penyebab utama keresahan tersebut diketahui karena jemaah pria itu menginginkan satu kamar bersama istrinya. 
Baca Juga: Surabaya Mantapkan Diri Sebagai Kota Ramah Anak Lewat Standar Nasional Ruang Bermain
Padahal, aturan di asrama mewajibkan pemisahan kamar antara jemaah laki-laki dan perempuan. 
Jemaah tersebut diketahui tergabung dalam kelompok bimbingan ibadah haji Al-Kautsar Jombang dan berangkat bersama sang istri.
Sementara itu, Kloter 62  dijadwalkan akan terbang menuju Tanah Suci pada Jumat (8/5) pukul 14.40 WIB. (rmt)
Editor : Nurista Purnamasari
#jemaah mengamuk #Haji 2026 #surabaya #jombang #jemaah haji