RADAR SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menargetkan diri menjadi Global Impact University pada 2030.
Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkuat kontribusi kampus dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Transformasi tersebut menandai perubahan arah pengembangan ITS yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik dan
publikasi ilmiah, tetapi juga hilirisasi riset, penguatan industri, dan penyelesaian persoalan masyarakat melalui teknologi.
Rektor ITS, Prof Bambang Pramujati, menegaskan bahwa seluruh inovasi dan penelitian di lingkungan kampus kini diarahkan agar memiliki manfaat langsung bagi masyarakat luas.
“Saya tekankan hilirisasi riset dengan industri agar dapat menyelesaikan persoalan dan menciptakan nilai ekonomi.
Kami ingin ITS tidak hanya dikenal dari segi akademik, tetapi juga dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Prof. Bambang, Kamis (7/5).
Baca Juga: Persiapan Porprov X 2027 Dimulai, Surabaya Siapkan Tiga Klaster Venue Olahraga
Menurutnya, ITS saat ini tengah mempercepat pengembangan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan global seperti disrupsi teknologi, transformasi digital, dan perubahan iklim.
ITS Luncurkan Strategi RAISE untuk Hadapi Tantangan Global
Untuk memperkuat arah pengembangan institusi, ITS meluncurkan Rencana Strategis (Renstra) bertajuk RAISE.
Strategi tersebut akan diperkuat melalui tiga pilar utama, yakni ITS Tangguh, ITS Berdampak, dan ITS Mendunia.
Ketiga pilar itu dirancang untuk meningkatkan daya saing kampus di tingkat internasional sekaligus memperluas kolaborasi global dalam bidang riset dan inovasi teknologi.
Meski sekitar 70 persen indikator kinerja periode sebelumnya telah tercapai, ITS menilai percepatan tetap diperlukan, terutama pada aspek hilirisasi dan komersialisasi inovasi.
Baca Juga: Surabaya Mantapkan Diri Sebagai Kota Ramah Anak Lewat Standar Nasional Ruang Bermain
“Kegiatan riset diarahkan pada hilirisasi dan komersialisasi inovasi. Dengan demikian, hilirisasi inovasi dapat memberikan nilai tambah ekonomi,” jelas Prof. Bambang.
ITS Perkuat Kemitraan Industri dan Kemandirian Finansial
Sementara itu, Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sarana Prasarana ITS, Machsus, menekankan
pentingnya tata kelola dan kemandirian finansial dalam mendukung target ITS sebagai kampus berdampak global.
Menurutnya, perguruan tinggi harus mulai memperkuat diversifikasi sumber pendanaan agar pengembangan inovasi dapat berjalan berkelanjutan.
“Upaya tersebut harus ditopang oleh penguatan aspek tata kelola dan kemandirian finansial.
ITS harus terus mendorong diversifikasi sumber pendanaan, termasuk lewat kemitraan industri. Kampus tidak boleh hanya bergantung pada anggaran negara,” ujarnya.
Dengan penguatan riset aplikatif, kemitraan industri, dan tata kelola profesional, ITS optimistis mampu menjadi motor penggerak inovasi teknologi nasional sekaligus
melahirkan inovasi mahasiswa yang berdampak nyata bagi masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan