RADAR SURABAYA - Pendidikan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan di ruang kelas. Lebih dari itu, lembaga pendidikan dituntut mampu menyiapkan peserta didik menghadapi perubahan dunia yang bergerak cepat, termasuk perkembangan teknologi dan dinamika kebutuhan industri kerja.
Hal tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam kegiatan Discovery Day yang digelar di Surabaya selama dua hari. Kegiatan ini menyasar siswa, orang tua, dan guru untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan pendidikan global sekaligus pentingnya memilih perguruan tinggi yang tepat.
Baca Juga: HGI City Cup 2026 Surabaya Fest Resmi Dibuka, Turnamen Domino Angkat Level Olahraga Pikiran
Direktur Kampus Binus Malang Robertus Tang Herman mengatakan, Surabaya dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai sebagai episentrum pendidikan di Jawa Timur.
“Kami ingin bertemu siswa, orang tua, dan guru untuk berbagi wawasan tentang perkembangan pendidikan global serta membantu masyarakat mendapatkan informasi lebih detail dalam memilih perguruan tinggi yang tepat,” ujarnya.
Menurut Robertus, dunia pendidikan kini harus mampu menjawab kebutuhan zaman, termasuk menghadirkan program studi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan tantangan sosial masa depan.
Salah satunya program Digital Psychology Program, yakni program studi yang memadukan disiplin ilmu psikologi dengan computer science. “Program ini lahir karena kami melihat perkembangan teknologi yang sangat cepat dan dampaknya yang besar terhadap kehidupan manusia, terutama dari sisi psikologis,” jelasnya.
Baca Juga: Cegah Tragedi Bunuh Diri Berulang, Bakal Ada Pos Pantau di Jembatan Cangar
Sementara itu, Natasha Gandhi, psikolog, menekankan bahwa aspek psikologis menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, khususnya dalam membantu siswa menentukan pilihan jurusan dan jenjang pendidikan yang sesuai.
“Melalui tes bisa membantu melihat bakat dan minat anak sehingga mereka bisa memilih jurusan yang tepat. Ada anak yang sebenarnya pintar, tetapi tidak lolos atau tidak berkembang karena jurusan yang dipilih tidak sesuai. Itu bukan berarti gagal, melainkan memang tidak cocok dengan potensinya,” terangnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek