RADAR SURABAYA - Sejumlah sentra wisata kuliner (SWK) di Surabaya tengah menghadapi persoalan serius berupa menurunnya jumlah pembeli. Kondisi ini juga terjadi di SWK Pegirian yang berada di kawasan dekat Wisata Religi Sunan Ampel. Bahkan, persoalan di lokasi tersebut terbilang lebih kompleks karena jaringan listrik dari PLN diputus akibat tunggakan pembayaran.
Salah satu pedagang, Haryani, mengungkapkan bahwa pemutusan aliran listrik telah berlangsung sejak sebelum bulan Ramadan. Ia menyebutkan, pihak PLN sebenarnya telah memberikan peringatan kepada pengelola, namun hingga kini kewajiban pembayaran belum juga dipenuhi.
Baca Juga: Alasan Ekonomi, Pencuri Ponsel Ngaku Sudah Tiga Kali Beraksi di Surabaya, Ini Daftar Lokasinya
“Kalau tidak salah tunggakannya cukup besar, sekitar Rp 36 juta sampai Rp 40 juta. Pengurusnya yang belum bayar sampai sekarang,” ujar Haryani, Rabu (29/4/2026).
Akibat tidak adanya aliran listrik, para pedagang terpaksa mengandalkan genset untuk memenuhi kebutuhan listrik puluhan lapak yang ada di SWK Pegirian. Namun, penggunaan genset hanya dilakukan pada malam hari karena keterbatasan biaya operasional.
“Kalau siang hari ya tidak ada listrik. Jadi tidak bisa ngecas HP, tidak bisa masak nasi pakai magic com, dan sebagainya,” kata perempuan asal Madura tersebut.
Baca Juga: Dijanjikan Pekerjaan di Surabaya, Perempuan Asal Jakarta Ini Dipaksa Jadi PSK
Kondisi ini turut berdampak pada kenyamanan pengunjung. Sejumlah pelanggan mengaku kecewa karena fasilitas dasar seperti listrik tidak tersedia, sehingga mengurangi minat untuk berkunjung.
Wahyu, salah satu pengunjung asal Ngagel, mengaku kerap singgah di SWK Pegirian bukan hanya untuk menikmati kopi, tetapi juga untuk mengisi daya ponselnya sambil bersantai.
“Saya ke sini itu sebenarnya bukan cari kopi, tapi numpang ngecas ponsel. Kalau tidak ada listrik, ya terpaksa pindah ke warkop lain,” ujarnya.
Para pedagang berharap pengelola segera menyelesaikan tunggakan listrik agar aktivitas jual beli kembali normal dan pengunjung kembali ramai seperti sebelumnya.(*)
Editor : Lambertus Hurek