RADAR SURABAYA — Asia-Europe Meeting (ASEM) Day 2026 yang digelar di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menjadi ruang diskusi strategis bagi generasi muda dan komunitas lingkungan.
Kegiatan hasil kolaborasi LPMB Unair dan Kementerian Luar Negeri ini membahas upaya meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat serta partisipasi publik dalam program keberlanjutan.
Sejumlah narasumber dari komunitas lingkungan membagikan pengalaman dan strategi, mulai dari membangun kesadaran hingga menghadapi perbedaan pola pikir masyarakat terhadap isu lingkungan.
Maulina Gheananta, co-founder 4GoodThings, menilai rendahnya kesadaran pengelolaan sampah masih menjadi tantangan utama.
Melalui komunitasnya, ia mengolah limbah plastik, khususnya dari kawasan Bantargebang, menjadi produk bernilai guna dengan pendekatan desain berkelanjutan.
Baca Juga: Lindungi Akses Sungai Kalimas, Benteng Kedung Cowek Bukti Pertahanan Berlapis Surabaya
“Kami melakukan edukasi ke sekolah-sekolah dan memanfaatkan media sosial seperti Instagram untuk menyebarkan kesadaran.
Perubahan bisa dimulai dari hal kecil di rumah tangga, seperti memilah sampah, asalkan dilakukan secara konsisten,” ujarnya, Senin (27/4).
Sementara itu, Muhammad Ikhsan Destian, co-founder Pandawara Group, menjelaskan bahwa gerakannya tidak hanya berfokus pada
kegiatan bersih lingkungan, tetapi juga edukasi serta pembangunan infrastruktur melalui berbagai program.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan aspek teknis di lapangan, melainkan perbedaan persepsi masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Karena itu, pendekatan berbasis perubahan perilaku dan publikasi digital dinilai efektif.
“Tidak semua orang memiliki tingkat kesadaran yang sama. Kita membutuhkan pendekatan yang berorientasi pada aksi. Setiap langkah kecil memiliki kontribusi besar terhadap perubahan,” tegasnya.
Baca Juga: PGN Jaga Kinerja Solid di Kuartal I 2026 dengan Fokus Layanan Domestik dan Disiplin Keuangan
Perwakilan The Sanitizers, Arnedi Rizki Adidharma, menambahkan bahwa gerakan lingkungan sering kali berawal dari inisiatif individu yang kemudian berkembang menjadi gerakan kolektif.
Ia menilai persepsi bahwa aksi menjaga lingkungan sia-sia menjadi hambatan yang perlu diubah.
“Media sosial sangat membantu mengubah pola pikir tersebut. Jangan terlalu fokus pada aksi besar hingga merasa kewalahan, tetapi lakukan secara konsisten hal-hal sederhana. Itu kunci perubahan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui ASEM Day 2026, diharapkan muncul lebih banyak inisiatif dari generasi muda untuk mendorong kesadaran lingkungan masyarakat serta memperkuat gerakan keberlanjutan di Indonesia.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan