RADAR SURABAYA – Nama Jalan Tepekong mungkin sudah asing bagi sebagian warga Surabaya. Kini kawasan itu dikenal sebagai Jalan Coklat. Namun pada masa lalu, ruas di kawasan pecinan Surabaya tersebut pernah menjadi pusat aktivitas ekonomi, termasuk berdirinya pabrik becak “Tong Soen”.
Berdasarkan arsip lama, pabrik bertuliskan “Paberik Betjak Tong Soen” itu beralamat di Djalan Tepekong 25 Surabaja. Pada era Hindia Belanda, kawasan tersebut dikenal sebagai Tepekongstraat. Nama itu merujuk pada keberadaan kelenteng (tepekong) yang menjadi penanda kawasan pecinan.
Sejumlah warga senior masih mengingat keberadaan pabrik tersebut. Tandyo, salah satu warga pecinan, mengatakan, pabrik Tong Soen tergolong besar pada masanya. Produksinya tidak hanya untuk kebutuhan lokal Surabaya, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah di Jawa Timur.
“Dulu becak sangat marak di jalan raya. Ke mana-mana orang naik becak untuk jarak dekat,” kata Tandyo.
Menurut dia, pada masa itu becak menjadi moda transportasi utama masyarakat perkotaan. Hampir setiap sudut kota dipenuhi lalu lalang becak, dari kawasan perdagangan hingga permukiman.
Namun, seiring perjalanan waktu, kejayaan becak mulai meredup. Masyarakat beralih ke sepeda motor yang dianggap lebih praktis dan cepat. Apalagi, sistem pembelian kredit membuat kendaraan bermotor semakin mudah dijangkau.
“Sekarang siapa saja bisa kredit motor, meski penghasilannya di bawah UMK. Beda dengan motor zaman dulu produksi Eropa yang sangat mahal dan elite,” ujar dia.
Perubahan pola transportasi itu berdampak langsung pada industri pendukungnya, termasuk pabrik becak. Permintaan menurun drastis hingga akhirnya pabrik Tong Soen di Jalan Tepekong pun tutup.
Kini, jejak pabrik tersebut nyaris tak tersisa. Kawasan yang telah berubah menjadi Jalan Coklat itu dipenuhi bangunan modern dan aktivitas perkantoran. Bahkan, banyak karyawan yang bekerja di sana tidak mengetahui bahwa lokasi tersebut pernah menjadi sentra produksi becak.(*)
Editor : Lambertus Hurek