Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pasar Maling Wonokromo, Dulu Ramai Transaksi Barang Bekas hingga Perjudian dan Prostitusi Kelas Teri

Lambertus Hurek • Jumat, 24 April 2026 | 07:19 WIB
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninjau pengaspalan sisi timur Jalan Raya Wonokromo yang selama bertahun-tahun digunakan untuk Pasar Maling. (Dimas Mahendra/ Radar Surabaya)
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninjau pengaspalan sisi timur Jalan Raya Wonokromo yang selama bertahun-tahun digunakan untuk Pasar Maling. (Dimas Mahendra/ Radar Surabaya)

 

RADAR SURABAYA – Aktivitas “pasar maling” di kawasan Wonokromo akhirnya resmi ditutup. Pemkot Surabaya menilai keberadaan puluhan pedagang kaki lima di sepanjang ruas jalan tersebut mengganggu kelancaran lalu lintas karena badan jalan menyempit.

Penutupan ini sekaligus mengakhiri riwayat pasar informal yang dulu sempat menampung ratusan pedagang. Lapak-lapak yang menjorok ke jalan dinilai menjadi salah satu penyebab kemacetan di jalur padat tersebut.

Baca Juga: Terbongkar! 19 Pegawai ESDM Jatim Kembalikan Rp707 Juta Uang Pungli Izin Tambang

Suwardi, warga senior setempat, mengatakan, sebutan “pasar maling” memang sudah lama melekat. Namun, menurut dia, tidak semua barang yang dijual merupakan hasil curian.

“Dulu memang ada yang jual barang ilegal, tapi tidak semuanya. Yang banyak itu barang bekas atau seken. Apa saja ada di situ dan memang murah,” ujar Suwardi, yang mengaku pernah menjadi pelanggan barang elektronik di lokasi tersebut.

Menurut dia, kejayaan pasar itu tidak bisa dilepaskan dari ekosistem kawasan Wonokromo tempo dulu yang dikenal sebagai area remang-remang. Di sisi timur, tepatnya di sepanjang rel kereta tak jauh dari stasiun, pernah ada lapak-lapak tenda untuk prostitusi kelas bawah yang ramai setiap malam.

“Di situ banyak warung, orang nongkrong sambil minum bir, arak, dan sebagainya,” kata pria 60 tahun itu.

Selain prostitusi, kawasan tersebut juga dikenal sebagai tempat berkumpulnya komunitas informal yang kerap menggelar perjudian pada malam hari. Aktivitas itu, menurut dia, turut menyumbang ramainya pengunjung pasar.

Namun, kondisi berubah setelah kompleks prostitusi tersebut dibongkar pada masa Wali Kota Tri Rismaharini. Penertiban dilakukan bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia sebagai pemilik lahan di sekitar rel.

Baca Juga: Haji 2026: 4 Jam Sebelum Terbang, Pesawat Haji Embarkasi Surabaya Wajib Lolos Pemeriksaan Ketat

“Sejak itu pengunjung pasar maling turun drastis, tidak sampai 50 persen. Orang-orang yang biasa datang, termasuk yang main judi, sudah tidak mampir lagi,” jelasnya.

Dampaknya, jumlah pedagang terus menyusut. Dari yang semula mencapai ratusan orang, kini tersisa kurang dari 20 pedagang.

Suwardi menilai, pembubaran pasar oleh pemkot saat ini merupakan langkah yang realistis. Sebab, menurut dia, pasar tersebut memang sudah kehilangan daya tarik dan pembeli.

“Makanya kalau sekarang dibubarkan ya alhamdulillah. Sudah sepi juga,” katanya.(*)

Editor : Lambertus Hurek
#pasar maling dibongkar #prostitusi Wonokromo #jalan raya wonokromo #pasar maling #pemkot surabaya