RADAR SURABAYA - Kasus praktik perjokian dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada hari pertama, Selasa (21/4), terungkap berkat deteksi canggih sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dari informasi yang dihimpun, joki berinisial H, yang mengaku dari Surabaya, tertangkap saat menggantikan peserta asli untuk mengikuti tes untuk masuk ke Fakultas Kedokteran di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Malang.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, menjelaskan bahwa temuan ini bermula dari analisis data awal yang menunjukkan adanya kesamaan foto yang mencurigakan.
Baca Juga: Festival Rujak Uleg dan Light Parade Bakal Jadi Magnet Wisatawan Selama HJKS Surabaya ke-733
"Memang temuan itu sudah diawali dari data awal yang kita miliki. Kita menggunakan generate AI, memang kemudian kita menemukan ada potensi sebuah foto dengan tingkat kemiripan hampir 95 persen," ungkap Martadi, Rabu (22/4).
Dari penelusuran, diketahui foto tersebut pernah digunakan pada dua periode Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang berbeda.
Tahun lalu, foto serupa sudah terdeteksi saat digunakan untuk tes di Universitas Airlangga (Unair), namun pelaku tidak hadir karena sudah ditangkap di Bandung.
Baca Juga: Unesa Temukan Indikasi Perjokian dan Pemalsuan Dokumen dalam UTBK SNBT di Awal Ujian
"Foto ini digunakan di dua SPMB yang berbeda. Tahun yang lalu dia sudah gunakan untuk tes yang tepatnya di Unair, tetapi saat itu yang bersangkutan tidak datang. Ya ketika tidak datang kita sempat dalami kenapa nggak datang, karena sudah dapat instruksi karena sudah ditangkap joki yang di Bandung, sehingga dia tidak jadi datang," jelasnya.
Lebih lanjut Martadi menjelaskan, tahun ini, pelaku kembali mencoba peruntungan menggunakan foto yang sama namun dengan nama yang berbeda.
Karena hari pertama pelaksanaan, pelaku merasa berani datang karena belum mengetahui adanya sistem deteksi ketat tersebut.
Baca Juga: Resmi! PDIP Tunjuk Syaifuddin Zuhri sebagai Ketua DPRD Surabaya
Panitia membiarkan pelaku mengikuti ujian hingga selesai demi mengamankan barang bukti. Sebelum ujian usai, panitia sudah menghubungi polisi dan tim supervisi nasional.
"Kita biarkan untuk mengikuti proses karena itu adalah hak mereka. Kemudian setelah selesai baru kita ambil. Sebelum selesai itu kita sudah kontak polisi, sudah siapkan tim supervisi dari nasional. Dari temuan itu memang akhirnya diketahui ada pengakuan bahwa dia joki," ujarnya.
Dalam pemeriksaan, terungkap bahwa kasus ini melibatkan jaringan yang sangat terorganisir. Pelaku mengaku direkrut di sebuah kafe dan seluruh dokumen identitas sudah disiapkan oleh pihak lain.
"Dia mengaku memang joki. Ketika ditelusur lebih jauh, ternyata ada 2 layer di atasnya dan layer itu selalu missing link sudah nggak bisa disebut lagi. Mereka pernah ketemu direkrut di sebuah kafe, kemudian mereka disiapkan semua dokumen," paparnya.
Baca Juga: Beli Voucher Parkir Suroboyo Lebih Mudah, Pemkot Surabaya Akan Gandeng Minimarket
Ditemukan Banyak Blanko dan Mika yang Siap Dijadikan KTP Palsu
Fakta mengejutkan terungkap saat pemeriksaan berkas.
Pelaku membawa KTP dan Ijazah asli atas nama orang lain, namun dengan foto yang sudah diganti. Hebatnya, dokumen tersebut menggunakan stempel basah yang sangat mirip asli.
"Jadi yang bersangkutan tidak membawa dokumen, datang itu sudah disiapkan. KTP atas nama yang dijoki, ijazah atas nama yang dijoki, print basah loh ya. Tapi hebatnya ijazah yang dibawa dengan foto yang diganti itu stempel basah," tegasnya.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Resmi Punya Dewan Kebudayaan, Kebijakan Budaya Berbasis Riset Dimulai
Kecurigaan semakin kuat saat panitia melakukan uji keaslian. Pelaku mengaku berasal dari Madura, namun tidak bisa berbahasa Madura.
Setelah diamankan, panitia menemukan barang bukti mencengangkan di motor joki tersebut. Terdapat mika-mika dan blanko kosong yang siap digunakan untuk mencetak dokumen palsu.
"Ketika kita lihat di motornya memang di dalam motor itu sudah ditemukan blanko-blanko yang siap untuk dicetak jadi KTP dan seterusnya. Jadi kalau di ruangan mereka sama sekali tidak membawa identitas apapun, bahkan sudah dilatih menghafalkan data diri orang yang dijoki," jelasnya.
Yang lebih mengejutkan, dalang di balik organisasi ini diduga bukan lagi lingkup lokal, melainkan sudah berskala nasional dan memiliki pola yang sama di berbagai daerah.
"Itu satu layer di atasnya lagi bukan dari Jawa Timur, sudah jaringan nasional. Ini tampaknya bukan kasusistik hanya di Unesa, tapi juga terjadi di perguruan tinggi lain. Kemarin ditemukan pola mirip di tiga tempat berbeda di seluruh Indonesia," tambahnya.
Dari pengakuan, diketahui bahwa koordinator tingkat atas yang membiayai operasional ini berasal dari salah satu provinsi di Jawa Barat.
Terkait status pendidikan, pelaku tidak mengaku sebagai mahasiswa aktif, namun diyakini sudah lulus atau sarjana.
Baca Juga: Surabaya Domino Tournament 2026 Ditutup Meriah, Emansyah Asal Gresik Raih Juara
"Dugaan saya ada dua kemungkinan, dia sudah lulus atau sarjana. Orang pintar bisa jadi joki kalau cuma lulusan SMA kan juga nggak mungkin, kan?" tegasnya.
Sikap pelaku juga menjadi sorotan. Meski tertangkap basah, tidak terlihat sedikit pun rasa takut.
"Selama kita dalami, tidak ada sedikitpun raut khawatir atau gemetar sama sekali. Dia benar-benar sangat tenang. Menurut saya ini memang profesional," tuturnya.
Baca Juga: Bursa Transfer: Liverpool Jangan Boros! Transfer Anthony Gordon Rp1,5 Triliun Dinilai Buang Uang
Atas kejadian tersebut panitia segera memperketat pengawasan untuk hari-hari berikutnya.
"Dengan pengalaman kemarin, kami melakukan langkah-langkah antisipatif dan memperketat SOP, " pungkasnya. (rmt)
Editor : Nurista PurnamasariSumber : radar surabaya