RADAR SURABAYA – Kondisi Kalitebu, Surabaya, menjadi sorotan publik menjelang peringatan Hari Bumi. Berdasarkan pemantauan terbaru LSM Ecoton, sungai di kawasan Kenjeran itu didominasi oleh sampah plastik.
Koordinator Brand Audit Ecoton Alaika Rahmatullah menyebut sebanyak 679 potong sampah plastik berhasil dikumpulkan dan diidentifikasi di Kalitebu. Sebagian besar merupakan kemasan sekali pakai dari produk konsumsi harian.
Baca Juga: Bekali Karyawan Hotel Ciputra World Surabaya Basic Life Support untuk Kondisi Darurat Kesehatan
“Produsen memiliki kewajiban atas sampah yang dihasilkan dari produk dan kemasan mereka. Melalui brand audit ini, kita menuntut tanggung jawab tersebut karena secara hukum produsen wajib mengelola sampah plastiknya,” ujar Alaika Rahmatullah, Rabu (22/4).
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan sampah yang masih memenuhi sungai tersebut bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Khususnya Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran VI. Ditegaskan bahwa standar kualitas sungai harus nihil sampah.
“Jika sampah bermerek masih memenuhi Kalitebu, artinya ada aturan hukum yang sedang dilanggar,” tegasnya.
Selain sampah yang terlihat mata, penelitian juga mengungkap fakta mengkhawatirkan terkait kandungan mikroplastik. Di lima titik pemantauan, ditemukan akumulasi mencapai 410 partikel per 100 liter air.
Baca Juga: Lagi-Lagi Terjadi, Bentrokan Warga dengan Debt Collector di Cakung Gara-Gara Penarikan Kendaraan
Tingkat kontaminasi tertinggi ditemukan di wilayah Hilir Tambak, Kelurahan Tambak Wedi, yang mencapai 123 partikel/100 liter, disusul Taman Toga, Kelurahan Tanah Kali Kedinding, sebanyak 107 partikel/100 liter.
Jenis mikroplastik yang ditemukan meliputi fiber, fragmen, pellet, film, dan foam, yang didominasi oleh sisa aktivitas rumah tangga. “Temuan mikroplastik di lima titik pemantauan mengingatkan kita bahwa Kalitebu memerlukan perhatian bersama agar dampak pencemaran terhadap ekosistem air dan kesehatan masyarakat dapat segera tertangani,” ujar Sofi Azilan Aini, peneliti Ecoton.
Kepala Laboratorium Ecoton Rafika Aprilianti menjelaskan bahwa partikel mikroplastik ini sangat berbahaya karena dapat masuk ke dalam rantai makanan. Mikroplastik berdampak berpotensi masuk ke dalam rantai makanan melalui ikan dan organisme air lainnya.
“Dalam jangka panjang, mikroplastik dapat terakumulasi dalam tubuh manusia,” paparnya. (rmt)
Editor : Lambertus Hurek