Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Jaga Gizi dan Kesegaran, 160 Orang di Dapur Asrama Haji Surabaya Memasak Sejak Dini Hari Penuhi Kebutuhan Makan Jemaah

Rahmat Sudrajat • Selasa, 21 April 2026 | 06:38 WIB
Kondisi dapur Asrama Haji persiapan untuk menghidangkan menu makanan yang akan disajikan untuk jemaah kloter awal. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)
Kondisi dapur Asrama Haji persiapan untuk menghidangkan menu makanan yang akan disajikan untuk jemaah kloter awal. (Rahmat Sudrajat/Radar Surabaya)

RADAR SURABAYA - Selama masa operasional penyelenggaraan ibadah haji, bagian dapur Asrama Haji Embarkasi Surabaya sibuk memenuhi kebutuhan makanan seluruh calon jemaah haji. 

Bahkan, para juru masak sudah mulai bekerja sejak dini hari agar hidangan sarapan yang disajikan mulai pukul 06.00 WIB siap tersaji dalam kondisi terbaik.

Menjelang kedatangan kloter awal jemaah haji dari Kabupaten Probolinggo, berbagai persiapan telah dilakukan, termasuk menyiapkan hidangan empat sehat lima sempurna.

Baca Juga: Iran Tegaskan Hanya Ikuti Hukum Internasional dalam Negosiasi dengan AS

Penanggung jawab dapur Asrama Haji, Niem Mu'jizah, menjelaskan bahwa setiap jenis bahan makanan yang disajikan sudah memiliki takaran yang baku, sehingga gizinya dapat terjaga dengan baik. 

Ia mencontohkan, untuk porsi daging, setiap orang mendapatkan sekitar 100 gram, yang berarti satu kilogram daging cukup untuk 10 orang saja.

Dengan jumlah jemaah yang banyak, perhitungan ini menjadi sangat penting, bahkan perlu disediakan cadangan untuk mengantisipasi adanya bagian bahan yang tidak dapat digunakan.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya, Selasa 21 April 2026: Siang Panas, Ada Peluang Hujan Ringan Disertai Petir 

Dalam sehari pihaknya memasak 114- 152 kilogram beras untuk nasi tergantung berapa kloter yang masuk ke asrama haji

“Semua makanan yang disajikan menunya sudah ditentukan sesuai dengan gizi dan kesehatan. Misalnya dagingnya untuk satu orang berapa gram, ikan berapa gram, jadi kita harus cuma bisa membagi daging kalau 100 gram berarti 1 kilo cuma untuk 10 orang. Demikian juga untuk berasnya bisa 114-152 kilogram tergantung dari berapa kloter yang masuk," jelasnya, Selasa (21/4). 

Ia menambahkan bahwa penyediaan bahan makanan disesuaikan dengan jumlah kedatangan jemaah, yang bisa mencapai tiga hingga lima kloter dalam sehari, dengan menu yang selalu bervariasi sesuai standar yang telah ditetapkan. 

Baca Juga: Menteri Pertanian Apresiasi Bulog Jatim, Jadi Penopang Utama Ketahanan Pangan

Untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan, proses memasak pun diatur sedemikian rupa agar hidangan yang disajikan selalu dalam keadaan segar dan nikmat. 

Selain makanan utama, pihak dapur juga menyediakan snack atau makanan ringan yang terdiri dari jenis kering, sehingga aman disimpan dan dapat dinikmati kapan saja. 

Setiap jemaah mendapatkan jatah makan sebanyak tiga kali dalam sehari, ditambah dua kali penyajian camilan, yang disertai juga dengan penyediaan air minum, teh, dan kopi.

Waktu penyajian makanan utama pun telah diatur dengan jelas, yaitu makan pagi mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB, makan siang pukul 12.00 hingga 14.00 WIB, dan makan malam pukul 17.00 hingga 19.00 WIB. 

Baca Juga: Mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual

Menurutnya, bagi jemaah yang tiba di asrama haji melewati batas waktu penyajian, pihaknya sudah melakukan konfirmasi terlebih dahulu dengan daerah asal, sehingga penjadwalan dan penyediaan makanan dapat disesuaikan dengan kondisi tersebut.

“Kalau misalnya jamaah misalnya tibanya malam gitu nggak dapat makan nggak dapat. Cuman kita sudah konfirmasi dengan daerah, nggih. Ini kan datangnya masuk asrama jam sekian, nggak dapat makan malam, gitu. Maksimal jam 7 malam,” terangnya.

Untuk jemaah yang akan berangkat dini hari, pihaknya tetap memastikan mereka mendapatkan makanan di asrama sebelum berangkat. 

Baca Juga: TKA SD Jatim Digelar 20–30 April, Partisipasi Siswa Tembus 99,5 Persen

Makanan akan disajikan dalam kemasan kotak dan diatur agar dikonsumsi sebelum naik di atas bus maupun di atas pesawat.

“Jika jemaah berangkat dini hari itu nggak bisa dibawa ke airport, harus makan di sini (asrama) menggunakan kotakan," imbuhnya.  

Menu makanan yang disajikan juga selalu bervariasi, dengan lauk-pauk seperti daging, ikan laut, tahu, dan telur, di mana setiap harinya jenis menu akan diganti agar jemaah tidak merasa bosan.

Baca Juga: Ratusan Atlet Siap Bertarung di Muaythai Jatim Seri II Surabaya, Piala Wali Kota di CITO Jadi Sorotan

Bahan-bahan yang digunakan pun dipastikan selalu segar, dengan sistem pengadaan yang dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan.

“Lauk-pauknya daging, ikan laut, tahu telur, jadi variasi. Menu makanan sehari ya sehari tiga kali. Masaknya ya tiga kali. Besoknya ganti lagi, harus ganti lagi. Belanjanya juga langsung," ujarnya. 

Proses memasak biasanya dimulai sekitar pukul 03.00 dini hari, dengan tujuan agar waktu antara proses memasak dan penyajian tidak terlalu lama sehingga makanan tetap segar. 

Oleh karena itu, dibutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak untuk menangani seluruh proses, mulai dari persiapan bahan hingga penyajian di ruang makan. 

Baca Juga: KONI Jatim Gandeng Konjen Jepang di Surabaya, Kerja Sama Cabang Olahraga Bela Diri Siap Diperkuat!

Secara keseluruhan, terdapat sekitar 160 orang tenaga yang bertugas di bagian dapur dan ruang makan, yang dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja. Apalagi tahun ini ada 43.625 jemaah dengan 116 kloter. 

Mulai masak pukul 03.00 pagi. Kan nggak terlalu lama waktunya, takut basi. Jadi tenaganya harus banyak. 

Untuk tenaga di dapur hingga ruang makan ada 160 orang menyiapkan menu makanan setiap hari. Setiap ruangan itu sepuluh, setiap ruangan sepuluh. Itu yang di ruang makan,” ujarnya.

Baca Juga: Ubaya Gelar Kuliah Tamu di Surabaya, Tekankan Pemahaman Perlindungan Hukum Penumpang Penerbangan

Setiap hari setelah masak ada petugas dari kesehatan untuk membersihkan dapur, semuanya dipel sampai steril.

Ia juga menambahkan untuk menu makan lansia dan jemaah dengan risiko tinggi (risti) juga berbeda. 

Pihaknya juga berkoordinasi dengan petugas daerah untuk mengetahui jumlah jemaah yang lansia dan risti dalam menyajikan makanan. 

Baca Juga: Transformasi Dewan Kebudayaan Surabaya Dorong Kebangkitan Ludruk dan Reog

"Kalau lansia nasinya lebih lembek, gak terlalu asem dan pedes. Kemudian lauknya seperti ikan dipilih dengan tekstur yang lembut misalnya ikan dori maupun kakap," tuturnya.

Dalam menjalankan tugasnya, pihak dapur juga menyediakan cadangan bahan makanan untuk mengantisipasi kekurangan, namun tetap memperhatikan agar tidak ada makanan yang terbuang atau rusak. 

Kualitas dan keamanan makanan juga diawasi secara ketat, dengan pemeriksaan yang dilakukan secara berkala bahkan setiap beberapa jam sekali oleh petugas dari Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK).

“Lebih banyak ya, tentu masaknya juga lebih banyak juga. Ada cadangan, takutnya nanti tidak mencukupi. Yang penting tidak sampai basi. ya pokoknya setiap jam diperiksa. Tidak sampailah, satu dua jam itu dicicipi sama petugas dari BBKK,” pungkasnya. (rmt)

Editor : Nurista Purnamasari
#Asrama Haji Embarkasi Surabaya #Haji 2026 #surabaya #jemaah haji #makanan jemaah haji