RADAR SURABAYA - Upaya pelestarian seni tradisi di Kota Surabaya terus menunjukkan perkembangan positif. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) aktif memberikan dukungan bagi komunitas seni seperti ludruk dan reog.
Kini, rencana transformasi Dewan Kesenian menjadi Dewan Kebudayaan Surabaya dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas perhatian terhadap sektor budaya dan memperkuat eksistensi seni tradisi di kota ini.
Pendiri Komunitas Ludruk Luntas, Robert Bayonet, mengapresiasi dukungan Pemkot Surabaya yang selama ini dirasakan oleh para pelaku seni.
Baca Juga: Gelar Simulasi Penerimaan Jemaah Kloter Awal di Asrama Haji Surabaya
“Selama ini yang diberikan cukup bagus terhadap seni tradisi, khususnya ludruk juga diperhatikan. Walaupun belum 100 persen, tapi cukup kami rasakan ketika membuat event-event atau melestarikan ludruk ke masyarakat,” ujarnya, Senin (20/4).
Robert mencontohkan program “Ludruk Merdeka” yang digelar dengan konsep keliling ke 10 kampung sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah.
Ia juga menilai akses fasilitas kesenian di Surabaya cukup mudah selama mengikuti prosedur yang berlaku.
Baca Juga: Kombes Pol Ganis: Perempuan Harus Berani Mengambil Ruang dan Melawan Kekerasan
“Kita mau latihan baik di GNI maupun Balai Pemuda, sebetulnya mudah, asalkan tahu prosedurnya,” tambahnya.
Robert menilai rencana transformasi Dewan Kesenian menjadi Dewan Kebudayaan Surabaya sebagai langkah positif yang akan memperluas cakupan perhatian terhadap berbagai sektor budaya.
“Bagus juga sebenarnya, karena cakupannya akan lebih luas,” kata Robert yang telah berkecimpung di dunia kesenian selama 25 tahun.
Ia berharap Dewan Kebudayaan nantinya dapat lebih dekat dengan kelompok seni tradisi.
“Dari tahun ke tahun kelompok ludruk di Surabaya terus bertambah. Dengan adanya Dewan Kebudayaan, kami harap perhatian terhadap seni tradisi bisa lebih intens,” ujarnya.
Ketua Perhimpunan Unit-Unit Reog Kota Surabaya (Purbaya), Budi Sutrisno atau akrab disapa Mas Tris, juga menyambut baik rencana transformasi kelembagaan tersebut.
Baca Juga: Cak Kartolo dan Ning Tini Punya Rahasia Kreativitas di Balik Banyolan Ludruk yang Menghibur
“Kalau memang ini untuk kemajuan kesenian reog dan kesenian lainnya, kami dari kesenian reog sangat setuju,” katanya.
Mas Tris berharap Pemkot Surabaya tidak hanya memberikan fasilitas, tetapi juga membuka ruang diskusi seperti sarasehan agar pelaku seni memahami arah kebijakan pemerintah. “Biar kita sebagai pekerja, pegiat, pelestari seni tahu arahan dari Pemerintah Kota Surabaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, hubungan antara komunitas reog dan Pemkot Surabaya selama ini berjalan baik. “Insyaallah kalau ada agenda kegiatan pasti difasilitasi,” ungkapnya.
Baca Juga: Lagu Baru Aldi Taher “Warung Madura” Viral, Lirik Unik Jadi Daya Tarik
Menurutnya, atmosfer kesenian reog di Surabaya kini semakin meningkat, terlihat dari rutinnya pertunjukan yang digelar setiap akhir pekan dan hari libur.
“Tiap minggu atau tanggal merah selalu ada penampilan reog untuk pariwisata,” pungkasnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari