RADAR SURABAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) melalui Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, resmi memberlakukan kebijakan pembatasan penggunaan gadget bagi murid dan guru di jenjang SMA, SMK, dan SLB sejak Senin (13/4). Kebijakan ini langsung direspons beragam oleh sekolah, mulai dari penerapan pengendalian ketat hingga tetap memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari sistem pembelajaran.
Sejumlah sekolah negeri memilih menerapkan sistem pengendalian perangkat digital secara disiplin. Salah satunya dilakukan SMA Negeri 15 Surabaya. Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMAN 15 Surabaya, Aditya Candra Prasetya, menyebut pihaknya lebih menggunakan istilah pengendalian perangkat digital dibanding pembatasan.
“Karena pada kondisi tertentu, kegiatan belajar mengajar tetap membutuhkan gadget sebagai media pendukung,” ujarnya, Jumat (17/4).
Baca Juga: Diberlakukan Menyeluruh, Ini Kata Dindik Jatim Terkait Pembatasan Penggunaan Gadget di Sekolah
Di sekolah tersebut, seluruh ponsel siswa dikumpulkan sejak jam pertama pelajaran dimulai hingga waktu istirahat. Perangkat baru dikembalikan kepada siswa saat jeda belajar dengan pengawasan ketat dari satuan tugas (satgas) sekolah.
“HP dikumpulkan di meja guru sejak awal pembelajaran dan dikembalikan saat istirahat. Penggunaannya pun diarahkan untuk hal-hal positif, seperti mengakses konten edukasi,” jelasnya.
Baca Juga: Terkuak! Pelaku Curanmor Berjaket Ojol di Petemon Kali Surabaya Ternyata Tetangga Korban
Tak hanya siswa, guru juga diwajibkan mengikuti aturan serupa. Gadget milik tenaga pendidik ikut dibatasi penggunaannya, kecuali saat dibutuhkan dalam proses pembelajaran.
“Tidak hanya gadget siswa, milik guru juga kami kendalikan. Kecuali jika memang diperlukan untuk kegiatan belajar mengajar,” imbuhnya.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Jadi Koordinator PPIH Embarkasi Surabaya 2026, Layani 44 Ribu Jamaah Haji
Menurut Candra, kebijakan ini mulai menunjukkan dampak positif, terutama dalam meningkatkan kualitas interaksi sosial antar siswa. Selain itu, kemampuan berpikir mandiri siswa juga dinilai mengalami peningkatan.
“Sekarang siswa lebih aktif berpikir. Kalau dulu cenderung langsung mencari jawaban di Google atau AI, sekarang mereka berusaha menyelesaikan sendiri,” ungkapnya.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Terima Stafsus Presiden, Pastikan UMKM Jatim Adaptif dan Naik Kelas di Era AI
Namun, pendekatan berbeda diterapkan oleh sekolah swasta seperti SMA Muhammadiyah X Surabaya. Sejak 2016, sekolah ini justru mengintegrasikan penggunaan gadget dalam sistem pembelajaran berbasis aplikasi digital.
Wakil Kepala Humas SMAM X Surabaya, Suwardi, mengatakan pihaknya memiliki platform khusus yang mendukung proses belajar mengajar, sehingga penggunaan gadget tetap menjadi bagian penting dalam kegiatan akademik.
Baca Juga: Pelaku Penganiayaan Tukang Cukur di Lidah Kulon Surabaya Ditangkap
“Kami sudah menggunakan aplikasi khusus sejak lama. Jadi tidak ada pengumpulan gadget, baik milik siswa maupun guru,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai penggunaan gadget tidak serta-merta mengurangi interaksi sosial siswa. Justru saat waktu istirahat, para siswa lebih memilih berkomunikasi langsung dengan teman-temannya.
Baca Juga: Pastikan Proses Berjalan Sesuai Aturan, Kanwil Kemenag Jatim Siap Dukung Penegakan Hukum
“Mungkin karena sudah jenuh dengan gadget saat belajar, jadi saat istirahat mereka lebih banyak ngobrol langsung,” katanya.
Menariknya, sekolah tersebut juga memiliki tim e-sport sebagai wadah pengembangan minat dan bakat siswa di bidang digital. Kendati memiliki pendekatan berbeda, pihaknya tetap mendukung kebijakan pembatasan yang diterapkan Dinas Pendidikan Jawa Timur.
“Kami sangat mendukung kebijakan ini, karena tujuannya tetap untuk kebaikan proses pendidikan,” pungkasnya. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto