Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pendekatan Pemkot Surabaya Berhasil, Kasus Kenakalan Remaja Berkurang Drastis

Dimas Mahendra • Jumat, 17 April 2026 | 19:41 WIB
PENDEKATAN: Pendekatan DP3APPPKB Surabaya berhasil menekan angka kenakalan remaja. Pemkot memberikan treatment khusus untuk remaja ini.(ILUSTRASI/RADAR SURABAYA)
PENDEKATAN: Pendekatan DP3APPPKB Surabaya berhasil menekan angka kenakalan remaja. Pemkot memberikan treatment khusus untuk remaja ini.(ILUSTRASI/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengklaim tren kekerasan dan kenakalan remaja mengalami penurunan tajam setelah menerapkan pola penanganan baru yang lebih tegas dan edukatif.Tak lagi sekadar dipulangkan ke orang tua, remaja yang terjaring kini “dikarantina” sementara untuk dibina. 

Kepala DP3APPPKB Surabaya, Ida Widayati, menyebut perubahan pendekatan ini berdampak signifikan terhadap angka kasus di lapangan.

“Alhamdulillah ada penurunan cukup signifikan. Tahun kemarin kasus yang ditangani kolaborasi Satpol PP dan DP3A sekitar 450 lebih, sekarang masih di bawah 100,” ujarnya.

Baca Juga: Terkuak! Pelaku Curanmor Berjaket Ojol di Petemon Kali Surabaya Ternyata Tetangga Korban 

Ida menjelaskan, sebelumnya remaja yang terjaring razia hanya menjalani konseling singkat sebelum dipulangkan. Pola itu dinilai kurang memberi efek jera.

Remaja yang terlibat kasus seperti miras, tawuran, hingga geng motor tidak langsung dikembalikan, tetapi ditempatkan di “rumah aman” untuk menjalani pembinaan intensif selama 7 - 14 hari.

Baca Juga: Dijual di Sekitar Probolinggo, Polda Jatim Cari Penjual Kemasan Beras SPHP Palsu 

“Di sana mereka kita beri edukasi. Mulai dari dampak kriminal, bahaya narkoba dari sisi kesehatan, sampai wawasan kebangsaan,” jelasnya.

Menariknya, program ini tidak memutus akses pendidikan anak. Bagi yang masih berstatus pelajar, proses belajar tetap berjalan secara daring selama masa pembinaan. Langkah ini dirancang agar efek disiplin tetap berjalan tanpa mengorbankan masa depan pendidikan mereka.

Baca Juga: Pelaku Penganiayaan Tukang Cukur di Lidah Kulon Surabaya Ditangkap

Selain pola pembinaan baru, kebijakan jam malam bagi anak juga disebut menjadi faktor penting dalam menekan angka kenakalan remaja.

Menurut Ida, sejak aturan tersebut diterapkan, pergerakan anak-anak di luar rumah pada jam rawan berhasil ditekan.“Utamanya sejak diberlakukan jam malam itu penurunannya terasa,” katanya.

Baca Juga: Kejati Jatim Tetapkan Kadis ESDM Jadi Tersangka, Sita Uang Miliaran

Kini, program pembinaan yang dikenal sebagai “rumah perubahan” ini mulai dijalankan sejak pertengahan tahun lalu. Seiring waktu, jumlah remaja yang harus menjalani pembinaan terus menurun.

“Sekarang semakin ke sini, yang masuk ke sana juga sudah semakin berkurang,” ungkap Ida.

Di tengah tren penurunan ini, Pemkot tetap mengingatkan generasi muda untuk tidak mencoba perilaku berisiko.

Baca Juga: Gubernur Khofifah Jadi Koordinator PPIH Embarkasi Surabaya 2026, Layani 44 Ribu Jamaah Haji

Ida menegaskan, dampak kenakalan remaja tidak hanya berhenti pada pelanggaran hukum, tetapi juga bisa merusak kondisi psikologis mereka.“Gunakan waktu untuk hal-hal positif. Karena dampak negatif itu akan mempengaruhi kehidupan kalian, terutama secara psikologis,” pesannya.

Dengan kombinasi jam malam dan pembinaan intensif, Surabaya kini menguji pendekatan baru: bukan sekadar menindak, tapi mengubah perilaku. (dim/gun)

Editor : Guntur Irianto
#DP3APPKB Kota Surabaya #kenakalan remaja surabaya #gangster #pemkot surabaya #Penanganan