RADAR SURABAYA - Memperingati Hari Kartini yang jatuh setiap April, Pemerintah Kota Surabaya bersama Bunda PAUD Kota Surabaya, Rini Indriyani, melakukan kunjungan ke sejumlah Pos PAUD Terpadu (PPT) pada Kamis (16/4).
Kegiatan ini bertujuan mengasah imajinasi sekaligus menanamkan literasi anak usia dini melalui metode mendongeng.
Dalam kunjungan ke PPT Bougenville dan PPT Flamboyan, Bunda Rini disambut antusias oleh anak-anak yang tak sabar mendengarkan cerita.
Ia membawakan dongeng bertema “7 Kebiasaan Baik Anak Indonesia Hebat + 2”, yang menurutnya bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen penting untuk membentuk karakter anak sejak dini.
“Anak usia dini itu stimulasinya paling efektif lewat cerita. Ada interaksi dan bonding di sana. Kita ingin menanamkan kebiasaan seperti bangun pagi, beribadah, olahraga, hingga gemar belajar dan bermasyarakat sedini mungkin,” ujar Rini.
Pemkot Surabaya menambahkan dua kebiasaan baru, yakni Gotong Royong dan Wani.
Baca Juga: Anak-Anak Belajar Ekspresi Lewat Dongeng di Perpustakaan Rungkut Surabaya
Nilai Wani bertujuan melatih keberanian anak untuk tampil dan mengemukakan pendapat, sementara Gotong Royong ditanamkan untuk menumbuhkan jiwa sosial serta kepedulian terhadap sesama sejak dini.
Bunda Rini juga memberikan apresiasi kepada guru PAUD atas kesabaran mereka mendampingi anak-anak. Ia mencontohkan seorang anak yang spontan mencari tempat sampah setelah minum meski suasana ramai.
“Itu bukti karakter sudah terbentuk. Saya berikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para Bunda PAUD,” tambahnya.
Selain mendongeng, Bunda Rini memastikan akses pendidikan anak usia dini di Surabaya berjalan maksimal.
Berdasarkan data di Kelurahan Wonokromo dan Wiyung, angka anak usia 5–6 tahun yang belum sekolah sudah mencapai 0 persen.
“Saya memastikan semua anak usia 5 sampai 6 tahun sudah terfasilitasi sekolah. Harapan saya, tidak ada lagi anak di Surabaya yang tidak sekolah,” tegasnya.
Melalui momentum Hari Kartini, Pemkot Surabaya menekankan pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini dengan pendekatan lokal khas Kota Pahlawan.
Baca Juga: Fenomena Ribuan Lebah Serbu Kota Netivot Israel, Warga Kaitkan dengan Kisah Alkitab
Bunda Rini berharap nilai sederhana seperti budaya mengantre, merapikan sepatu, hingga membuang sampah pada tempatnya akan menjadi bekal berharga bagi generasi mendatang.
“Hasilnya bukan sekarang, tapi 10 atau 15 tahun kemudian. Saat mereka dewasa, kita akan melihat generasi dengan karakter kuat karena sudah dipupuk sejak usia dini,” pungkasnya. (dim/nur)
Editor : Nurista PurnamasariSumber : radar surabaya