Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Vandalisme Kian Meluas di Surabaya, Bangunan Cagar Budaya di Kota Lama Juga Dicoret-coret

Lambertus Hurek • Rabu, 15 April 2026 | 12:37 WIB
Salah satu tembok bangunan cagar budaya di Jalan Kalimalang Surabaya jadi korban vandalisme. (HUREK/RADAR SURABAYA)
Salah satu tembok bangunan cagar budaya di Jalan Kalimalang Surabaya jadi korban vandalisme. (HUREK/RADAR SURABAYA)

 

RADAR SURABAYA - Kota Lama itu seperti buku tua. Halamannya kuning, tapi justru di situlah letak ceritanya. Sayang, ada saja tangan-tangan iseng yang mencoretinya.

Coretan itu bukan sekali dua kali muncul. Ia datang pelan-pelan. Seperti penyakit lama yang kambuh lagi. Dinding-dinding bangunan tua di Kembang Jepun, Kalimalang, Jalan Karet, sampai Jalan Gula, tak luput dari sasaran. Padahal, bangunan-bangunan itu seharusnya dijaga. Dirawat. Bukan dijadikan kanvas liar.

Baca Juga: Resensi Buku : Ubah Gelisah Jadi Sukses Berkah

Maya Wati sudah sering melihatnya. Ia bekerja di kawasan itu. Ia tahu betul, ini bukan hal baru.

“Sudah lama,” katanya. “Biasanya mereka datang malam. Seperti punya dunia sendiri. Mencoret seenaknya.”

Bukan satu titik saja. Awalnya satu. Lalu menjalar. Seperti noda tinta yang merembes ke mana-mana. Dibiarkan sedikit, besoknya bertambah. Lusa makin banyak.

Aneh juga. Lokasinya tidak jauh dari kelurahan. Laporan sudah pernah masuk. Tapi ujungnya seperti bola yang ditendang ke sana kemari. Dari satu instansi ke instansi lain. Tanpa hasil nyata.

Ada satu bangunan di Kembang Jepun dekat gapura Kya-Kya. Bagian belakangnya menghadap Kalimalang. Tiga sampai empat bulan lalu mulai dicoret. Sampai sekarang, masih begitu. Belum tersentuh pemulihan. Apalagi penindakan.

“Kalau saya bilang, ini seperti tangan setan,” ujar Maya. “Tidak peduli itu cagar budaya atau bukan. Semua tembok dianggap milik mereka.”

Ia membedakan vandalisme dengan mural. Mural itu seni. Ada pesan. Ada niat baik. Tapi yang ini? Banyak yang hanya coretan tanpa arti. Sekadar nama, simbol kelompok, atau tulisan yang bahkan sulit dibaca.

Meski begitu, bangunannya tidak sampai rusak secara struktur. Biasanya, kalau sudah terlalu mengganggu, penghuni akan mengecat ulang sendiri. Dikembalikan ke warna semula.

“Tapi yang ini kami biarkan dulu,” katanya. Mungkin lelah. Mungkin juga ingin menunjukkan: ini loh, masalahnya belum selesai.

Baca Juga: Wakil PM Spanyol Yolanda Diaz Kecam Keras Komentar Donald Trump soal Paus Leo XIV: “Kesalahan Besar!”

Padahal, bangunan-bangunan itu bukan sekadar tembok. Mereka adalah penanda waktu. Saksi sejarah. Tanpa mereka, Kota Lama hanya akan jadi deretan bangunan tanpa cerita.

“Coba bayangkan kalau tidak ada bangunan cagar budaya,” kata Maya. “Kawasan ini kehilangan makna.”

Ia menyayangkan, justru nilai itu yang pelan-pelan terkikis. Bukan oleh waktu, tapi oleh tangan manusia sendiri.

Harapannya sederhana. Kesadaran. “Semoga mereka sadar. Tembok itu bukan tempat untuk dicoret. Apa pun alasannya, itu merusak. Dan memperbaikinya butuh biaya.”

Masalahnya bukan hanya coretan. Kawasan itu juga minim pengawasan. Tidak banyak CCTV. Malam hari, beberapa titik gelap dan sepi.

Pernah ada kejadian. Seorang perempuan sedang asyik berswafoto di Kalimalang. Tiba-tiba, seseorang datang. Dalam hitungan detik, ponselnya raib. Dijambret.

Kota Lama, dengan segala pesonanya, ternyata masih menyimpan celah.

Karena itu, Maya berharap ada langkah lebih serius. Patroli diperbanyak. Pengawasan diperketat. CCTV dipasang di titik-titik rawan.

“Katanya ada tim pantau dari pemkot,” ujarnya. “Harapannya patroli bisa lebih sering. Memang sekarang sudah mulai ditingkatkan, tapi fokusnya masih ke kriminal. Vandalisme ini juga perlu perhatian.” (*)

Editor : Lambertus Hurek
#vandalisme #kota lama surabaya #Jalan Karet #bangunan cagar budaya #kembang jepun