
RADAR SURABAYA = Kenaikan harga plastik mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Surabaya. Biaya kemasan yang melonjak hingga lebih dari 50 persen memaksa mereka melakukan penyesuaian harga jual.
Salah seorang pelaku UMKM, Alfiyatur, mengaku kenaikan harga plastik sangat berdampak pada biaya produksi usahanya. Sebab, lonjakan harga itu terasa mendadak dan signifikan.
Baca Juga: Kena OTT, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Ditangkap KPK
“Awalnya harga plastik sekitar Rp 13 ribu, sekarang naik jadi Rp 20 ribu per pack. Kenaikannya lebih dari 50 persen,” ujarnya di Surabaya, Jumat (10/4).
Lonjakan tersebut membuat pelaku usaha tak punya banyak pilihan. Untuk menutup biaya produksi, harga produk pun terpaksa dinaikkan, meski hanya dalam nominal kecil.
“Kami akhirnya menaikkan harga roti sekitar Rp 1.000. Tapi itu pun dilematis, karena pembeli pasti bertanya kenapa naik,” ungkap owner Kitaji Bakery itu.
Menurut Alfiyatur, bahkan kenaikan kecil sekalipun tetap menjadi sorotan pelanggan. Tidak sedikit yang mempertanyakan alasan kenaikan hingga nominal yang dianggap terlalu besar.
“Ada yang tanya kenapa naik Rp 1.000, kenapa tidak Rp 500 saja. Jadi, memang serba sulit,” tambahnya.
Kondisi ini semakin berat lantaran kenaikan harga plastik juga dibarengi dengan naiknya bahan baku lain seperti minyak goreng. Akumulasi biaya tersebut membuat margin keuntungan pelaku usaha semakin tergerus.
“Kalau dibilang berat, ya, jelas sangat berdampak bagi kami pelaku usaha kecil,” tegasnya.
Baca Juga: Dramatis! Indonesia Tumbangkan Vietnam, Lolos ke Final AFF Futsal 2026
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) Surabaya, Mia Santi Dewi, membenarkan bahwa kenaikan harga plastik saat ini cukup signifikan dan dipengaruhi faktor global. Karena itu, Dinkopumdag telah melakukan berbagai langkah antisipatif, mulai dari pemantauan harga hingga pendampingan langsung kepada pelaku UMKM.
“Kami rutin melakukan monitoring harga dan ketersediaan barang, sekaligus memberikan pendampingan kepada UMKM agar bisa beradaptasi dengan kondisi ini,” ujarnya.
Salah satu solusi yang didorong adalah inovasi dalam penggunaan kemasan, termasuk beralih ke bahan nonplastik yang lebih efisien dan ramah lingkungan. “Kami mendorong UMKM untuk mulai menggunakan alternatif kemasan agar biaya produksi bisa ditekan,” tambah Mia.
Baca Juga: Transparansi Parkir Surabaya, 616 Jukir Resmi Beralih ke Sistem Digital
Selain itu, perubahan pola penjualan juga menjadi opsi, seperti mengurangi penggunaan kemasan kecil dan beralih ke penjualan dalam jumlah lebih besar.
Di sisi lain, Dinkopumdag juga menjalin komunikasi dengan distributor untuk mempersingkat rantai pasok sehingga harga bahan kemasan bisa lebih kompetitif di tingkat pelaku usaha.
Meski keluhan belum masif, Pemkot Surabaya memastikan langkah antisipasi terus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan UMKM di tengah tekanan biaya produksi.
“Kami ingin UMKM tetap berjalan, produksi tidak terganggu, dan daya beli masyarakat tetap terjaga,” pungkas Mia. (*)
Editor : Lambertus Hurek