RADAR SURABAYA - Tren investasi di kalangan anak muda semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena ini mendorong berbagai perguruan tinggi untuk memperkuat literasi keuangan mahasiswa agar tidak sekadar mengikuti tren, tetapi juga memahami risiko dan mekanisme investasi secara benar.
Baca Juga: Mahasiswa FT Ubaya Ciptakan Sistem Rasaya untuk Pantau Kesehatan Mental Siswa, Begini Cara Kerjanya
Merespons hal tersebut, Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya) menjalin kerja sama dengan PT Valbury Asia Futures bersama Jakarta Futures Exchange (JFX).
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program Futures Trading Learning Program (FTLP) yang ditujukan untuk memberikan pemahaman tentang industri perdagangan berjangka komoditi.
Baca Juga: Ubaya Gelar Pasar Murah, Sediakan 1.000 Paket Sembako Terjangkau untuk Warga
Dekan FBE Ubaya Prof. Dr. Putu Anom Mahadwartha menjelaskan, kerja sama ini menjadi bagian dari upaya kampus menjembatani dunia akademik dengan industri keuangan.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mendapatkan wawasan praktis langsung dari para pelaku industri.
Baca Juga: Pesan Penting Rektor pada 10 Guru Besar Baru Ubaya
“Melalui interaksi dengan PT Valbury Asia Futures, mahasiswa diharapkan mampu membedakan antara investasi yang sehat dengan spekulasi yang berisiko tinggi. Selain itu, mereka juga bisa memahami standar profesionalisme di industri keuangan sehingga memiliki kompetensi praktis yang siap digunakan di dunia kerja,” ujar Prof. Anom, Kamis (8/4).
Dalam program FTLP, mahasiswa akan diperkenalkan pada berbagai aspek perdagangan berjangka, mulai dari mekanisme pasar hingga peran bursa berjangka dan perusahaan pialang.
Materi pembelajaran akan disampaikan langsung oleh praktisi dari PT Valbury Asia Futures maupun Jakarta Futures Exchange.
Branch Manager PT Valbury Asia Futures Semarang Ronald Chandra mengatakan, kerja sama ini memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa, terutama dalam meningkatkan literasi keuangan dan pemahaman tentang pasar investasi.
“Mahasiswa akan mendapatkan akses edukasi mengenai pasar keuangan dan perdagangan berjangka secara lebih praktis. Selain itu, mereka juga bisa merasakan pengalaman simulasi trading serta berkesempatan mengikuti program magang di industri Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK),” jelas Ronald.
Ke depan, implementasi kerja sama ini akan dilakukan secara berkelanjutan melalui pembentukan FTLP di lingkungan kampus.
Selain itu, juga akan digelar berbagai program edukasi rutin seperti seminar, workshop, hingga kelas trading yang didampingi langsung oleh praktisi industri.
“Harapannya, kerja sama ini mampu melahirkan talenta muda yang profesional dan kompeten serta dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan industri keuangan di Indonesia, khususnya di sektor perdagangan berjangka komoditi,” tambahnya.
Selain penandatanganan nota kesepahaman, kegiatan ini juga diisi dengan seminar bertajuk “Introduction to the Futures Industry”.
Seminar tersebut menghadirkan Investment Research Analyst Miftah Faridh Nasir serta Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) Yazid Kanca Surya.
Yazid menekankan pentingnya membangun fondasi keuangan yang sehat sebelum memulai investasi.
Menurutnya, investasi bukan cara instan untuk mendapatkan keuntungan, melainkan proses jangka panjang yang membutuhkan pemahaman, disiplin, serta manajemen risiko yang baik.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada tren investasi semata atau fenomena fear of missing out (FOMO). Keputusan investasi, kata dia, seharusnya didasarkan pada literasi dan analisis yang matang.
“Mahasiswa sebenarnya bisa mulai belajar investasi dengan modal yang relatif kecil, misalnya melalui kontrak multilateral di bursa yang nilainya tidak terlalu besar. Tujuannya agar risiko tetap terkontrol,” jelas Yazid.
Menurutnya, yang paling penting dalam proses belajar investasi adalah melatih pengendalian diri, emosi, dan ego.
Meski nilai investasi kecil, pengalaman tersebut dapat melatih tanggung jawab serta mendorong mahasiswa mempelajari pergerakan pasar dan teknik analisis.
“Ketika nanti mereka sudah memiliki modal lebih besar, mereka sudah siap secara pengetahuan maupun mental. Yang tidak kalah penting adalah manajemen keuangan, termasuk memiliki dana cadangan agar tetap aman jika investasi mengalami kerugian,” pungkasnya. (sam/vga)
Editor : Vega Dwi Arista