SURABAYA – Kenaikan harga kedelai mulai menekan pelaku usaha kecil di Surabaya. Para pengrajin tempe di Kampung Tempe, Jalan Tenggilis Kauman, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, harus mencari cara agar usaha tetap berjalan di tengah lonjakan biaya produksi.
Di kawasan tersebut, sedikitnya terdapat tujuh rumah produksi tempe yang terdampak langsung oleh kenaikan harga bahan baku. Kondisi ini membuat para pengrajin harus melakukan berbagai penyesuaian.
Salah satu pengrajin, Ghofur Rohim, 54, mengungkapkan harga kedelai sudah mengalami kenaikan sejak sebelum Lebaran dan terus meningkat hingga saat ini.
“Sebelumnya sekitar Rp9.500 per kilogram. Naiknya waktu masih puasa, habis Lebaran makin naik lagi. Sekarang sudah Rp10.400 per kilogram,” ujarnya, Senin (06/04).
Baca Juga: Gunungan Tempe 14 Meter Jadi Ikon Wisata Budaya Desa Sedenganmijen Sidoarjo
Ghofur menjelaskan, hingga kini dirinya masih mengandalkan kedelai impor. Hal itu disebabkan keterbatasan ketersediaan kedelai lokal serta kualitasnya yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan produksi secara optimal.
“Kalau lokal rasanya lebih enak, tapi hasil tempenya kurang bagus. Selain itu jumlahnya juga tidak mencukupi,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, menaikkan harga jual bukanlah pilihan mudah. Untuk menyiasati kenaikan biaya produksi, Ghofur memilih memperkecil ukuran tempe yang dijual kepada konsumen.
“Sekarang saya jual sekitar Rp11.000 sampai Rp12.000 per kilogram, menyesuaikan harga kedelai. Itu pun masih sulit dibilang untung,” ujarnya.
Baca Juga: Begini Strategi Disperindag Jatim Jaga Stabilitas Harga dan Pasokan Kedelai
Menurutnya, fluktuasi harga kedelai sebenarnya bukan hal baru. Kenaikan harga sudah kerap terjadi setiap tahun, meski belakangan sering dikaitkan dengan kondisi global.
“Dulu juga tanpa perang harga tetap naik. Memang tiap tahun ada naik-turun, apalagi menjelang akhir tahun,” jelasnya.
Baca Juga: Kenali Kandungan dan Manfaat Susu Kedelai: Alternatif Sehat Pengganti Susu Sapi
Ia bahkan mengingat harga kedelai impor pernah mencapai Rp12.000 per kilogram. Ketergantungan terhadap impor dinilai menjadi salah satu penyebab harga sulit stabil.
Ghofur juga mengenang masa ketika Indonesia sempat swasembada kedelai pada era 1980-an dengan kualitas yang dinilai lebih baik.
“Dulu ada kedelai lokal namanya Galunggung, kualitasnya bagus. Tapi tidak bertahan lama,” kenangnya.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi untuk menjaga stabilitas harga kedelai, sehingga pelaku usaha kecil tidak terus berada dalam tekanan.
“Harapannya harga bisa stabil. Jangan naik-turun terus seperti ini,” pungkasnya. (rif/fir)